April 09, 2013

Belajar Jadi Wartawan Pada Mantan Guru Olahraga Menikmati Pengalaman Eksotis Pelatihan dan Rekrutmen Wartawan Malang Post


 
Suasana pagi masih dingin dengan sisa-sisa gerimis. Dari jarak lima meter terlihat beberapa mahasiswa memasuki gedung yang di samping kanan atas pintu utama masuk tergantung papan bertuliskan Malang Post. Di samping kiri setelah pintu masuk, ada ruang tunggu yang disediakan beberapa kursi.
Di dalam gedung besar menghadap utara itu, setelah belok kiri tepat di samping meja penerima tamu, ada ruangan yang bersih dan luas. Ruangan tersebut biasa disebut Hall Malang Post. Di dinding terpasang foto-foto berukuran cukup besar. Di tengah tersedia meja berukuran besar yang diapit oleh beberapa kursi empuk.
Dengan senyum ramah yang tersungging dari bibirnya, Husnun N Djuraid, redaktur senior Malang Post menyambut peserta ‘Pelatihan dan Rekrutmen Wartawan Malang Post’. Sambil menaruh tubuhnya di atas kursi, laki-laki berbadan tinggi tegap itu menyapa para peserta. “Saya senang bertemu dengan orang-orang muda yang mempunyai semangat seperti kalian,” ujar Husnun kemarin di Hall Malang Post.

Laki-laki kelahiran Surabaya itu antusias sekali menyampaikan materi. Para peserta juga tidak kalah antusiasnya mendengarkan dan memahami materi yang disampaikan. Husnun bangga berada di depan para peserta yang menurutnya adalah para calon pemimpin redaksi Malang Post.

Dengan posisinya sebagai redaktur senior, Husnun sangat gamblang menjelaskan perihal wartawan dan proses peliputan hingga menulis berita. “Wartawan itu bukan pekerjaan tapi profesi,” tegasnya.
Dia menuturkan, profesi atau orang profesional adalah orang yang kompeten dan bertanggung jawab atas profesinya. Dalam menjalani profesinya, wartawan bertanggung jawab baik saat meliput peristiwa, menulis dan juga bertanggung jawab setelah tulisan itu dimuat di media.

Husnun lantas menceritakan perjalanan hidupnya dari dulu yang masih berprofesi sebagai guru olahraga hingga menulis di media massa dan akhirnya menjadi wartawan. Ingatan Husnun melompat ke masa lalu. Setelah menyelesaikan studinya di IKIP Semarang, dia mendaftarkan diri menjadi Pegawai Negeri Sipil guru di salah satu sekolah di Semarang. Dia menjadi guru olahraga sesuai dengan jurusannya sewaktu di bangku kuliah.

Awalnya, Husnun merasa jenuh setiap kali selesai mengajar murid-muridnya. Jam 7 sampai jam 9 dia mengajar olahraga. Antara jam 9 sampai jam 1 siang, Husnun merasa jenuh dengan dirinya yang tidak mempunyai kegiatan.

Berawal dari kejenuhannya itu, muncul keinginannya untuk membuat oret-oretan sederhana di kertas.  Sepulang mengajar, berbekal mesin ketik yang pernah diberikan ibunya dulu waktu kuliah, Husnun mulai mencoba menulis.

“Awalnya saya berpikir, untuk apa ibu memberikan mesin ketik pada saya. Padahal mahasiswa lain, mereka dibelikan motor oleh orang tuanya, tapi ternyata banyak hikmahnya,” kenang Husnun.

Husnun tidak puas dengan hanya menulis saja, dia mencoba mengirimkan tulisannya ke media. Setiap kali mengirimkan ke media, tulisannya selalu ditolak tidak dimuat di media. Namun, akhirnya pada kiriman yang ke 25, tulisan Husnun dimuat di media. Betapa bangganya Husnun kala itu. “Tulis yang anda pikir, jangan pikir yang anda tulis,” ungkapnya.

Dari situlah Husnun menemukan potensinya yang baru. Ketekunannya menulis membawa dia melamar menjadi wartawan di salah satu surat kabar. Tidak butuh waktu lama, dia berhasil diterima menjadi wartawan.

Namun, pada ujungnya, Husnun harus memilih diantara dua profesinya tersebut. Dia lebih memilih menjadi wartawan dan mengundurkan diri dari profesinya sebagai guru olahraga. “Ternyata mendua itu tidak enak, tidak fokus,” ujarnya seraya tersenyum lebar.

Selesai berkisah perjalanan karirnya, Husnun melanjutkan materi pelatihan yang sempat terputus. Menurutnya, wartawan itu blusukan. Ia bisa mendapatkan berita dimana-mana, bahkan di tempat sampah sekalipun.

Dia menceritakan, dulu salah satu wartawan Malang Post ada yang blusukan sampai ke pusat pembuangan sampah di Malang. Wartawan itu menemukan seorang lelaki paruh tua tengah mengais-ngais tumpukan sampah. Diketahui, lelaki tersebut tengah mencari bekas obat-obatan yang sudah kadaluarsa. Sang  wartawan tergerak menulis hasil blusukannya itu dalam bentuk tulisan berseri di Malang Post.

Dalam materinya, menurut dia, berita merupakan laporan tentang sebuah peristiwa atau keadaan yang bersifat umum, baru saja terjadi atau aktual yang ditulis wartawan di media massa. Dia menambahkan, informasi sebagai bahan berita diproses melalui proses jurnalistik hingga akhirnya menjadi berita. “Pada proses jurnalistik itu ada tiga tahapan, yaitu ceck and receck, penulisan dan editing,” jelasnya.

Selesai memaparkan materi, Husnun membuka pertanyaan dari para peserta yang masih belum paham. Ada satu sampai empat peserta yang bertanya. “Wartawan mempunyai kebebasan tapi bertanggung jawab,” ungkapnya menutup sesi pertama penyampaian materi pelatihan.

Pukul 1 siang, selesai peserta istirahat dan makan siang, materi pelatihan kembali dilanjutkan. Dengan wajah sumringah, semangat Husnun menyala-menyala untuk meyampaikan materi sesi kedua.

Pada sesi kedua, Husnun lebih banyak menjelaskan teknik menulis berita. Para peserta diarahkan cara menulis berita yang baik dan benar. Husnun mengarahkan bahwa berita itu  meliputi 5W + 1H. Yaitu what yang berarti fakta, peristiwa atau situasi; when yang berarti keterangan waktu; where yang menunjukkan keterangan tempat kejadian; who yang berarti sumber berita; why dan how, dua pertanyaan yang harus dikembangkan untuk melengkapi body berita.

Setelah unsur-unsur berita terpenuhi, Husnun melanjutkan, penulisan berita menggunakan model piramida terbalik. Yaitu meletakkan bagian yang paling penting dan menarik di alinea atau lead pertama sebuah berita. Berikutnya, body berita yang berisi pengembangan dari pertanyaan why dan how. “Panjang berita tergantung seberapa menarik berita itu,” tuturnya.

Tidak berhenti sampai disitu, Husnun terus menjelaskan, gelar nama seorang sumber informasi yang diperoleh juga harus ditulis. Dia menceritakan, dirinya pernah dimarahi oleh salah satu sumber berita, hanya karena dia tidak menulis gelar nama sumber tersebut saat beritanya dimuat.

Di akhir materi, Husnun memberikan pekerjaan rumah kepada para peserta. Mereka disuruh membuat tulisan bebas tentang materi yang sudah diperoleh. Hal ini dilakukan untuk melatih kemampuan menulis para peserta sebelum direkrut menjadi wartawan Malang Post.

Oleh Latif Fianto

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo