Suasana pagi masih dingin dengan
sisa-sisa gerimis. Dari jarak lima meter terlihat beberapa mahasiswa memasuki
gedung yang di samping kanan atas pintu utama masuk tergantung papan
bertuliskan Malang Post. Di samping kiri setelah pintu masuk, ada ruang tunggu
yang disediakan beberapa kursi.
Di dalam gedung besar menghadap utara
itu, setelah belok kiri tepat di samping meja penerima tamu, ada ruangan yang
bersih dan luas. Ruangan tersebut biasa disebut Hall Malang Post. Di dinding
terpasang foto-foto berukuran cukup besar. Di tengah tersedia meja berukuran
besar yang diapit oleh beberapa kursi empuk.
Dengan senyum ramah yang tersungging
dari bibirnya, Husnun N Djuraid, redaktur senior Malang Post menyambut peserta ‘Pelatihan
dan Rekrutmen Wartawan Malang Post’. Sambil menaruh tubuhnya di atas kursi,
laki-laki berbadan tinggi tegap itu menyapa para peserta. “Saya senang bertemu
dengan orang-orang muda yang mempunyai semangat seperti kalian,” ujar Husnun
kemarin di Hall Malang Post.
Laki-laki kelahiran Surabaya itu antusias
sekali menyampaikan materi. Para peserta juga tidak kalah antusiasnya
mendengarkan dan memahami materi yang disampaikan. Husnun bangga berada di
depan para peserta yang menurutnya adalah para calon pemimpin redaksi Malang
Post.
Dengan posisinya sebagai redaktur
senior, Husnun sangat gamblang menjelaskan perihal wartawan dan proses
peliputan hingga menulis berita. “Wartawan itu bukan pekerjaan tapi profesi,”
tegasnya.
Dia menuturkan, profesi atau orang
profesional adalah orang yang kompeten dan bertanggung jawab atas profesinya.
Dalam menjalani profesinya, wartawan bertanggung jawab baik saat meliput
peristiwa, menulis dan juga bertanggung jawab setelah tulisan itu dimuat di
media.
Husnun lantas menceritakan perjalanan
hidupnya dari dulu yang masih berprofesi sebagai guru olahraga hingga menulis
di media massa dan akhirnya menjadi wartawan. Ingatan Husnun melompat ke masa
lalu. Setelah menyelesaikan studinya di IKIP Semarang, dia mendaftarkan diri menjadi
Pegawai Negeri Sipil guru di salah satu sekolah di Semarang. Dia menjadi guru
olahraga sesuai dengan jurusannya sewaktu di bangku kuliah.
Awalnya, Husnun merasa jenuh setiap kali
selesai mengajar murid-muridnya. Jam 7 sampai jam 9 dia mengajar olahraga. Antara
jam 9 sampai jam 1 siang, Husnun merasa jenuh dengan dirinya yang tidak
mempunyai kegiatan.
Berawal dari kejenuhannya itu, muncul
keinginannya untuk membuat oret-oretan sederhana di kertas. Sepulang mengajar, berbekal mesin ketik yang
pernah diberikan ibunya dulu waktu kuliah, Husnun mulai mencoba menulis.
“Awalnya saya berpikir, untuk apa ibu
memberikan mesin ketik pada saya. Padahal mahasiswa lain, mereka dibelikan
motor oleh orang tuanya, tapi ternyata banyak hikmahnya,” kenang Husnun.
Husnun tidak puas dengan hanya menulis
saja, dia mencoba mengirimkan tulisannya ke media. Setiap kali mengirimkan ke
media, tulisannya selalu ditolak tidak dimuat di media. Namun, akhirnya pada
kiriman yang ke 25, tulisan Husnun dimuat di media. Betapa bangganya Husnun kala
itu. “Tulis yang anda pikir, jangan pikir yang anda tulis,” ungkapnya.
Dari situlah Husnun menemukan potensinya
yang baru. Ketekunannya menulis membawa dia melamar menjadi wartawan di salah
satu surat kabar. Tidak butuh waktu lama, dia berhasil diterima menjadi
wartawan.
Namun, pada ujungnya, Husnun harus
memilih diantara dua profesinya tersebut. Dia lebih memilih menjadi wartawan
dan mengundurkan diri dari profesinya sebagai guru olahraga. “Ternyata mendua
itu tidak enak, tidak fokus,” ujarnya seraya tersenyum lebar.
Selesai berkisah perjalanan karirnya, Husnun
melanjutkan materi pelatihan yang sempat terputus. Menurutnya, wartawan itu
blusukan. Ia bisa mendapatkan berita dimana-mana, bahkan di tempat sampah
sekalipun.
Dia menceritakan, dulu salah satu
wartawan Malang Post ada yang blusukan sampai ke pusat pembuangan sampah di
Malang. Wartawan itu menemukan seorang lelaki paruh tua tengah mengais-ngais
tumpukan sampah. Diketahui, lelaki tersebut tengah mencari bekas obat-obatan
yang sudah kadaluarsa. Sang wartawan
tergerak menulis hasil blusukannya itu dalam bentuk tulisan berseri di Malang
Post.
Dalam materinya, menurut dia, berita merupakan
laporan tentang sebuah peristiwa atau keadaan yang bersifat umum, baru saja
terjadi atau aktual yang ditulis wartawan di media massa. Dia menambahkan, informasi
sebagai bahan berita diproses melalui proses jurnalistik hingga akhirnya
menjadi berita. “Pada proses jurnalistik itu ada tiga tahapan, yaitu ceck and receck, penulisan dan editing,” jelasnya.
Selesai memaparkan materi, Husnun membuka
pertanyaan dari para peserta yang masih belum paham. Ada satu sampai empat peserta
yang bertanya. “Wartawan mempunyai kebebasan tapi bertanggung jawab,” ungkapnya
menutup sesi pertama penyampaian materi pelatihan.
Pukul 1 siang, selesai peserta istirahat
dan makan siang, materi pelatihan kembali dilanjutkan. Dengan wajah sumringah,
semangat Husnun menyala-menyala untuk meyampaikan materi sesi kedua.
Pada sesi kedua, Husnun lebih banyak
menjelaskan teknik menulis berita. Para peserta diarahkan cara menulis berita
yang baik dan benar. Husnun mengarahkan bahwa berita itu meliputi 5W + 1H. Yaitu what yang berarti fakta, peristiwa atau situasi; when yang berarti keterangan waktu; where yang menunjukkan keterangan tempat
kejadian; who yang berarti sumber
berita; why dan how, dua pertanyaan yang harus dikembangkan untuk melengkapi body berita.
Setelah unsur-unsur berita terpenuhi, Husnun
melanjutkan, penulisan berita menggunakan model piramida terbalik. Yaitu
meletakkan bagian yang paling penting dan menarik di alinea atau lead pertama sebuah berita. Berikutnya, body berita yang berisi pengembangan
dari pertanyaan why dan how. “Panjang berita tergantung seberapa
menarik berita itu,” tuturnya.
Tidak berhenti sampai disitu, Husnun terus
menjelaskan, gelar nama seorang sumber informasi yang diperoleh juga harus
ditulis. Dia menceritakan, dirinya pernah dimarahi oleh salah satu sumber
berita, hanya karena dia tidak menulis gelar nama sumber tersebut saat
beritanya dimuat.
Di akhir materi, Husnun memberikan pekerjaan
rumah kepada para peserta. Mereka disuruh membuat tulisan bebas tentang materi
yang sudah diperoleh. Hal ini dilakukan untuk melatih kemampuan menulis para
peserta sebelum direkrut menjadi wartawan Malang Post.
Oleh Latif Fianto
10.19
PENA KAMPUS

Posted in: 


0 komentar:
Posting Komentar