Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Desember 20, 2013

Pengorbanan Terakhir

Siang itu, Fachrul masih duduk di beranda mushola. Dia baru saja menunaikan sholat zuhur. Ketika itu, salah seorang sahabatnya yang bernama Ridwan menghampirinya untuk menyampaikan sesuatu yang cukup berat disampaikan pada Fachrul sahabat terbaiknya.

Melihat kedatangan Ridwan, Fachrul langsung menyambutnya dengan senyuman khasnya. Begitu sampai, Ridwan langsung duduk di samping Fachrul dengan penuh kecemasan. Melihat keadaan itu, Fachrul langsung bertanya-tanya dalam hati, mereka berdua saling membisu dalam pikiran masing-masing.

Juni 18, 2013

Memoar

Pagi itu begitu indah. Sebab, cahaya matahari  mulai kelihatan memancarkan kerinduan dari ufuk timur. Sehingga bunga yang bermekaran dan siul merpati mulai kedengaran. Seperti biasa jika pagi telah datang, aku dibuat tersenyum olehnya. Saat dia mengintipku lewat jendela kamarnya, wajahnya seperti bulan purnama di malam hari. Cahayanya begitu indah  memancarkan keteduhan. Sementara kedua bola matanya, begitu elok seperti permata dan ombak yang setia memeluk laut. Di sana aku tak menjumpai hujan yang turun dari pelupuk matanya. Sementara matahari belum saja beranjak jauh sehingga tatapannya masih tajam aku tangkap. Dalam dirinya aku merasakan ada getaran rindu yang semakin bergelora. Sebab lama rasanya tak berjumpa membuatku semakin merindukannya. Tanpa aku sadari hati ini telah lama terpikat olehnya.

Juni 09, 2013

Entahlah

“Pokoknya Rhea mau kuliah ndik sana!”
“Ibuk ndak kuat nduk, yo mbok ngerti” sahut Mama sambil menyiapkan makan malam.
Coba kalau Bapak ada ndik sini. Pasti dia ngerti opo seng Rhea rasain. Lagian kenapa Ibu Bapak cerai kalo cuma buat Rhea hidup dalam kemiskinan?
Plak….
Tamparan Ibu mengagetkanku, sejenak aku terdiam dan memandang mata Ibu yang berkaca-kaca.
“Bapakmu ora ngerti opo-opo nduk. Ibu dan Bapak cerai itu yo ono sebabe. Ini bukan urusanmu. Bocah mambu kencur ae. Ndak usah ngomongin Bapak lagi!”

Mei 11, 2013

Memoar Hati Dalam Sepenggal Rasa


Aku kembali pada labuhan rasaku, hati. Bagaimana rinduku yang tak pernah terjawab. Pertanyaan dimana yang sampai saat ini aku tak pernah mendengar darimu lagi. Padahal aku telah letih. Aku letih merindukanmu. Aku letih terus mengeja namamu. Sangat. Letihku membuncak, dan kau tahu kenapa? Aku tak pernah mendapatkan jawaban cinta darimu, aku tak lagi mendengar ucapan tunggu darimu. Kau hempaskan harapanku ditegah gersangnya rasa. Kau toreh hatiku disaat badai menggelegarkan suaranya. Tepat ditelingaku. Dan aku terkapar.

Mei 02, 2013

Pendar Purnama di Mata El


Mimpi itu datang lagi. Seorang gadis yang sejak dulu aku impikan. Wajahnya bersih berbalut jilbab. Aku melukis kesempurnaannya pada bayang-bayang yang aku cipta dari potongan-potongan impian yang ku pungut setiap waktu. Bayangannya begitu nyata berlari-lari di antara dua alisku. Senyumnya manis menghanyutkan para musafir yang menatapnya. Matanya tanggal lima belas. Hidungnya mancung. Tapi semua keindahan itu aku cipta dalam imajenasiku sendiri.

April 21, 2013

Episode Luka Rindu


Memang  benar orang bilang cinta kadang buat kita bahagia dan terluka. Sebab hidup di dunia ini tanpa cinta adalah sepi. Sepi yang membelenggu. Seperti sebuah pohon yang tak  lagi berbunga. Ya, cinta terkadang bisa membuat  kita merasa bahagia dan  termasuk derita. Aku baru sadar, kalau cinta itu perlu diperjuangkan meski nyawa adalah taruhannya. Dan aku baru  menyadari, kalau  ingin merasakan bahagia dalam bercinta juga pun jangan  lupa derita dalam  perjalan cinta.

Menghitung Gerimis


“Fi, angkat tanganmu dan tengadahkanlah. Sebentar lagi gerimis akan datang, abang akan mengajarimu menghitung jatuhnya gerimis di tanganmu” bang Iwan mengangkatkan tanganku, tangannya dingin mungkin akibat cuaca pagi yang sangat sejuk apalagi saat ini kami sedang berada di kebun teh milik ayah daerah Bogor yang letaknya tak begitu jauh dari rumah kami. “Langit sudah mendung, kita ke bawah pohon di tepi jalan saja” abang menuntunku hingga saatnya aku disuruh untuk duduk. Lalu abang kembali menyuruhku untuk menengadahkan kedua tanganku. Aku turuti saja meski nyatanya aku tak mengerti apa makna semua yang ia ajarkan padaku. Hingga akhirnya aku rasakan beberapa tetes air sudah merintik di telapak tanganku. “Fi, ini yang biasa abang lakukan ketika dahulu abang menunggu bunda datang kembali ke tengah-tengah kita. Gerimis inilah yang membuat abang mengerti bahwa sejatinya hidup itu akan berkelanjutan, menetes lalu mengalir. Jadi kalau Fifi lagi sedih, main dengan gerimis saja” ucap bang Iwan seraya mencium keningku lalu memeluk tubuhku. “Abang sayang Fifi” bang Iwan melepas pelukannya dan gerimispun sudah tak jatuh lagi ditanganku. Mungkin sudah reda. Abang juga tiba-tiba mengajakku pulang ke rumah dengan menaiki sepeda ontel kesayangannya. Kami pun meninggalkan kebun teh itu.

April 09, 2013

Belajar Jadi Wartawan Pada Mantan Guru Olahraga Menikmati Pengalaman Eksotis Pelatihan dan Rekrutmen Wartawan Malang Post


 
Suasana pagi masih dingin dengan sisa-sisa gerimis. Dari jarak lima meter terlihat beberapa mahasiswa memasuki gedung yang di samping kanan atas pintu utama masuk tergantung papan bertuliskan Malang Post. Di samping kiri setelah pintu masuk, ada ruang tunggu yang disediakan beberapa kursi.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo