April 01, 2013

Kakang Malang Bicara Budaya

Kamis, 22 September 2011, bertepatan dengan pelaksanaan Orientasi Pendidikan (Ordik) Universitas Tribuana Tunggadewi kedatangan duta kebudayaan kota Malang. Wocil Radix Mahakam Dwinov, Duta Kebudayaan kota Malang yang terpilih melalui kontes Kakang dan Mbak Yu. Kehadirannya di tengah-tengah Mahasiswa baru adalah untuk memberikan wawasan mengenai budaya kota Malang.
Wocil, mahasiswa yang akrab dengan sapaan Kakang Malang ini, memaparkan pandangannya tentang budaya kota Malang. Ia mengakui bahwa budaya Malang mulai terkikis oleh budaya-budaya modern. “Yang harus kita perhatikan bukan kenapa itu bisa masuk. Karena itu (red: budaya luar) sudah pasti masuk. Seperti budaya barat, harajuku, Korea-koreaan itu pasti terjadi. Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita menghandle budaya kita. Kita harus mengkombinasikan itu,” ujar mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Fisip Universitas Brawijaya itu.
Menurutnya, budaya lokal bisa dipadukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnnya saja penggunaan batik yang tidak hanya digunakan dalam acara-acara tertentu. Artinya, batik bisa saja dipakai ke kampus atau mengkreasikannya menjadi dress yang menarik. Hal tersebut perlu dilakukan mengingat minimnya apresiasi generasi muda terhadap budaya lokal yang lebih cenderung tertarik pada budaya luar. Dengan mengkombinasikan itu, berarti budaya luar tetap diterima sambil tetap memperlihatkan budaya lokal.
Tentang kebudayaan Malang itu sendiri, mahasiswa berusia 20 tahun asal Samarinda ini mengungkapkan ada 3 budaya original kota Malang. Yang pertama adalah “topeng”, Topeng biasa dicerminkan melalui tari topengan dan wayang topeng. Yang kedua, bahasa “walikan arema” dimana arek-arek Malang yang akrab dipanggil “AREMA” berbicara dengan membolak-balikkan huruf dalam setiap kata. Misalnya saja “arek ngalam” dibaca “kera ngalam”. Bahasa ini menjadi trendsenter kota Malang. Kebudayaan terakhir adalah “cobek”. Tempat mengulek sambal ini, ternyata berasal dari kota Malang dan kini di seluruh Indonesia menggunakan tempat tersebut.
Tak lupa kakang memberikan pesan untuk generasi muda khususnya Unitri. “Kita nggak boleh munafik kalau ekspansi budaya barat tidak bisa dihentikan. Jadikanlah media-media global, seperti facebook dan twitter menjadi tempat mempromosikan kota Malang di kancah  Nasional maupun Internasional. Itu semua akan membuat kita jadi kritis dan menciptakan perubahan. Jangan hanya menjadi orang muda yang menikmati apa yang ada saja,” harapnya.

Lola A, Syakdiyatul

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo