Kamis, 22
September 2011, bertepatan dengan pelaksanaan Orientasi Pendidikan (Ordik)
Universitas Tribuana Tunggadewi kedatangan duta kebudayaan kota Malang. Wocil
Radix Mahakam Dwinov, Duta Kebudayaan kota Malang yang terpilih melalui kontes
Kakang dan Mbak Yu. Kehadirannya di tengah-tengah Mahasiswa baru adalah untuk
memberikan wawasan mengenai budaya kota Malang.
Wocil, mahasiswa yang akrab dengan
sapaan Kakang Malang ini, memaparkan pandangannya tentang budaya kota Malang.
Ia mengakui bahwa budaya Malang mulai terkikis oleh budaya-budaya modern. “Yang
harus kita perhatikan bukan kenapa itu bisa masuk. Karena itu (red: budaya
luar) sudah pasti masuk. Seperti budaya barat, harajuku, Korea-koreaan itu
pasti terjadi. Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana kita menghandle
budaya kita. Kita harus mengkombinasikan itu,” ujar mahasiswa jurusan Hubungan
Internasional Fisip Universitas Brawijaya itu.
Menurutnya, budaya lokal bisa
dipadukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnnya saja penggunaan batik yang
tidak hanya digunakan dalam acara-acara tertentu. Artinya, batik bisa saja
dipakai ke kampus atau mengkreasikannya menjadi dress yang menarik. Hal
tersebut perlu dilakukan mengingat minimnya apresiasi generasi muda terhadap
budaya lokal yang lebih cenderung tertarik pada budaya luar. Dengan
mengkombinasikan itu, berarti budaya luar tetap diterima sambil tetap memperlihatkan
budaya lokal.
Tentang kebudayaan Malang itu
sendiri, mahasiswa berusia 20 tahun asal Samarinda ini mengungkapkan ada 3
budaya original kota Malang. Yang pertama adalah “topeng”, Topeng biasa
dicerminkan melalui tari topengan dan wayang topeng. Yang kedua, bahasa
“walikan arema” dimana arek-arek Malang yang akrab dipanggil “AREMA” berbicara
dengan membolak-balikkan huruf dalam setiap kata. Misalnya saja “arek ngalam”
dibaca “kera ngalam”. Bahasa ini menjadi trendsenter kota Malang.
Kebudayaan terakhir adalah “cobek”. Tempat mengulek sambal ini, ternyata
berasal dari kota Malang dan kini di seluruh Indonesia menggunakan tempat
tersebut.
Tak lupa kakang memberikan pesan
untuk generasi muda khususnya Unitri. “Kita nggak boleh munafik kalau ekspansi
budaya barat tidak bisa dihentikan. Jadikanlah media-media global, seperti
facebook dan twitter menjadi tempat mempromosikan kota Malang di kancah Nasional maupun Internasional. Itu semua akan
membuat kita jadi kritis dan menciptakan perubahan. Jangan hanya menjadi orang
muda yang menikmati apa yang ada saja,” harapnya.
Lola A, Syakdiyatul
09.49
PENA KAMPUS



0 komentar:
Posting Komentar