April 21, 2013

Menghitung Gerimis


“Fi, angkat tanganmu dan tengadahkanlah. Sebentar lagi gerimis akan datang, abang akan mengajarimu menghitung jatuhnya gerimis di tanganmu” bang Iwan mengangkatkan tanganku, tangannya dingin mungkin akibat cuaca pagi yang sangat sejuk apalagi saat ini kami sedang berada di kebun teh milik ayah daerah Bogor yang letaknya tak begitu jauh dari rumah kami. “Langit sudah mendung, kita ke bawah pohon di tepi jalan saja” abang menuntunku hingga saatnya aku disuruh untuk duduk. Lalu abang kembali menyuruhku untuk menengadahkan kedua tanganku. Aku turuti saja meski nyatanya aku tak mengerti apa makna semua yang ia ajarkan padaku. Hingga akhirnya aku rasakan beberapa tetes air sudah merintik di telapak tanganku. “Fi, ini yang biasa abang lakukan ketika dahulu abang menunggu bunda datang kembali ke tengah-tengah kita. Gerimis inilah yang membuat abang mengerti bahwa sejatinya hidup itu akan berkelanjutan, menetes lalu mengalir. Jadi kalau Fifi lagi sedih, main dengan gerimis saja” ucap bang Iwan seraya mencium keningku lalu memeluk tubuhku. “Abang sayang Fifi” bang Iwan melepas pelukannya dan gerimispun sudah tak jatuh lagi ditanganku. Mungkin sudah reda. Abang juga tiba-tiba mengajakku pulang ke rumah dengan menaiki sepeda ontel kesayangannya. Kami pun meninggalkan kebun teh itu.

###
Namaku Fifi Fahirawati, aku gadis yang masih berumur 16 tahun. Aku merupakan adik yang di manja oleh abangku, Iwan Purnama. Dia lelaki yang sangat baik, perhatian, pintar dan pastinya penyayang. Dia masih berumur 23 tahun, dia sudah lulus S1 di Universitas Bogor  jurusan Ilmu Administrasi Publik. Dia termasuk mahasiswa yang rajin bahkan saat wisuda dia menjadi wisudawan terbaik di jurusannya. Hingga akhirnya dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di luar Negeri, tapi sayang bang Iwan memilih menemaniku di sini, tidak mau melanjutkan pendidikannya. Ohya, aku juga punya ayah, dia baik sekali. Tapi ayah sangat sibuk di kantor jadi sangat jarang aku bersama ayah di rumah. Maka dari itu bang Iwan lah yang rela menemaniku. Kamu pasti masih bertanya-tanya mengapa aku harus selalu ditemani? Bukan karena aku manja atau apa, tapi karena aku tidak sepertimu yang memiliki tubuh normal. Aku buta dan bisu. Sejak aku lahir keadaan yang aneh ini menimpaku, hingga Bunda kami pergi. Dia merasa malu memiliki anak sepertiku dia sempat menyuruh ayah untuk menaruhku di panti asuhan, tapi ayah dan abangku melarang dan akhirnya karena mungkin bunda tak kuat untuk melayani dan merawatku, dia memilih pergi dari rumah ini. Sampai sekarang dia tidak pernah muncul ditengah-tengah kami lagi.
Aku memang bisu, sehingga apa yang aku rasakan dalam hatiku tidak pernah bisa terdengar oleh siapapun. Tapi satu hal, aku masih bisa menulis, bang Iwan yang mengajariku menulis abjad-abjad dan akhirnya bisa dirangkai menjadi kata-kata, tunggu dulu jangan salah sangka. Abang mengajariku menulis bukan lantas aku bisa melihat bentuk tulisan itu, tapi abang mengajariku dengan cara memegang tanganku, lalu menggerakkan tanganku sesuai dengan bentuk huruf yang akan aku tulis. Hingga akhirnya karena terbiasa aku jadi hafal untuk menulis huruf-huruf itu hingga jadi kata-kata. Begitulah hebatnya abangku, dia selalu memiliki cara yang unik untuk mengajariku. Sebenarnya dari dulu ayah menyuruh abang untuk mengantarkanku mendaftar di taman kanak-kanak di dekat rumahku. Tapi abangku menolak permintaan ayah, dia malah menanggung untuk mengajariku. Kata abang, dia tak mau aku mendapatkan ejekan atau dicemooh teman-temanku yang memiliki tubuh normal. Abang selalu hati-hati, dia tidak mau siapapun menyakitiku. Itu yang membuat aku sangat mencintainya.
###
Pukul 06.30 Wib, kami sudah berkumpul diruang makan untuk sarapan pagi. Sebentar lagi biasanya ayah berangkat ke kantor. Sedang aku dan abang jalan-jalan ke daerah perkebunan ayah untuk menikmati udara yang sangat segar. “Wan, besok ayah harus ke luar kota. Ada urusan kantor yang harus ayah selesaikan. Jadi kamu harus jaga adikmu baik-baik” Mendengar percakapan ayah, ingin rasanya aku bilang, “Ayah, Fifi rindu ayah, kapan ayah ada waktu untuk sekadar menemani Fifi jalan-jalan atau bermain?” Tapi ah, itu hanya mampu aku bisikkan dalam hati. Ayahpun tak mungkin mendengarkannya. “Pasti yah. Iwan kan abang yang baik buat Fifi, ya kan Fi?” Abang mengelus rambutku, lalu memberikanku segelas air untuk aku minum. “Ya, ayah percaya itu, yauda ayah berangkat ke kantor dulu. Hari ini ayah datang agak malam, jadi tak usah ditunggu. Tutup pintunya jangan lupa dikunci Wan. Nanti kalo ayah udah sampai dihalaman rumah, ayah akan hubungi kamu” Ayah adalah orang yang sangat waspada, dia sangat memperhatikan keselamatan kami semua. “Oke bos!” ujar bang Iwan sambil cengengesan. “Kau ini, yaudah assalamualaikum” Ayah pun menyentuh tanganku bertanda aku harus salaman dan mencium tangan kanan ayah sebagai tanda penghormatan dari anak pada orang tuanya dan itu biasa aku dan bang Iwan lakukan. “Bi’ Silvi, jangan lupa rapikan lagi ya meja makannya. Bibi juga jangan lupa untuk sarapan” ungkap ayah pada bi’ Silvi. Pembantu kami yang berasal dari kampung sebelah. Bi Silvi sangat baik, dialah yang melayani kebutuhan sehari-hari keluarga kami. Kami sudah menganggapnya seperti keluarga kami sendiri. “Iya tuan. Pasti rapi” bi Silvi menjawab perkataan ayah lalu setelah itu ayah pun sudah tak bersuara lagi. Mungkin dia sudah keluar dari rumah. “Bi, Iwan dan Fifi keluar dulu ya” pamit bang Iwan pada bi Silvi seraya menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Kami pun pergi ketempat biasa. Kebun teh milik ayah, udaranya masih segar hah andaikan aku bisa melihat, mungkin kebun ini sangat indah. Aku juga penasaran seperti apa bentuk matahari yang kata bang Iwan merupakan ciptaan Tuhan yang begitu terang, rembulan, bintang dan langit, sepertinya itu semua sangat indah. “Fi, pulang saja ya. Tiba-tiba abang nggak enak badan, abang mau istirahat saja di rumah. Maaf ya hari ini abang tak lama menemanimu bermain di sini. Kita pulang saja” Aku pun mengangguk. Aku khawatir juga pada keadaan abang. Tak biasanya abang seperti ini. Sakit apa dia?
###
            Rumah sudah sepi, ayah sudah berangkat satu jam yang lalu keluar kota, bibi juga baru saja pamit harus pulang kampung karena anak laki-lakinya mau di operasi karena penyakit kankernya. Hanya tinggal aku dan abang di rumah ini. Itupun abang sekarang masih tak pulih dari sakitnya. Dia tadi malam baru dari rumah sakit, kata dokter dia harus banyak istirahat. Dia jatuh sakit karena kecapean. Kasian abang, ini pasti karena aku. Aku juga mulai tak tega membiarkan abang begini terus-terusan. Kasian dia udah jadi sarjana ternyata kerjaannya hanya menjaga orang yang tak berguna sepertiku.
            Tiba-tiba aku ingin keluar rumah, aku meraba dinding dari kamarku hingga sampailah di pintu. Aku dengar sepertinya ada gerimis. Aku pun berusaha sampai di halaman rumah. Aku ingin kembali merasakan dan menghitung jatuhnya air ditanganku. Aku tengadahkan tanganku. Dingin, mungkin gerimis sudah mulai berubah menjadi hujan, air yang jatuh semakin cepat dan sangat deras. Tak kusangka mataku melinangkan air. Aku rindu bang Iwan. Dia yang biasa menemaniku menghitung gerimis, sekarang tak ada. Dia sudah sakit. Aku merasa sendiri. Aku merasa sudah tak ada orang yang peduli padaku. Ya Allah, mengapa aku harus hidup jika aku tak mampu menjadi orang yang berguna? Siapa yang butuh pada orang bisu dan buta sepertiku ini?
            Aku kembali kedalam rumah, setelah itu aku kembali meraba-raba dinding hingga akhirnya sampai ke depan pintu kamar bang Iwan. Aku ketuk lalu aku pun memasuki kamar itu. Setelah sampai di pinggir kasur bang Iwan, aku mencoba mencari tangan bang Iwan, aku ingin sekali memegang tangannya. “Kenapa kamu basah kuyup seperti ini Fi?” abang mengelap tubuhku dari kain yang ia pegang ditangannya. “Kau main hujan? Bisa-bisa kau sakit jika main hujan!” Suaranya meninggi. Baru kali ini abang kedengeran marah padaku, abang masih terus saja mengelap tubuhku yang mulai gemetar karena dingin. “Bang, kata abang jika aku sedih aku harus bermain dengan gerimis. Makanya tadi aku keluar bang. Aku tengadahkan tanganku lalu aku bermain dengan gerimis hingga seluruh tubuhku basah” Aku tulis kata-kata itu di atas kertas yang memang aku pegang. Aku sodorkan pada bang Iwan. Tak lama kemudian abang memelukku erat. “Apa yang kau rasakan Fi? maaf jika abang tak menemanimu. Jangan sedih lagi ya, ayah akan cepat pulang dan abang akan cepat sembuh. Fifi nggak bakalan sepi lagi” abang melepas pelukannya. Aku pun mencoba tersenyum. Lalu bibir bang Iwan menyentuh keningku. Aku merasa kembali bahagia, abang telah kembali lagi disampingku.
###
            Tiba-tiba bang Iwan memeluk tubuhku yang masih berbaring diatas kasur. Hingga aku terbangun dari tidurku. Aku tak mengerti apa yang abang lakukan, dia sangat erat memeluk tubuhku, dia menangis tersedu. Ada apa ini? “Fi, kau yang sabar ya. Ayah sudah pergi untuk selamanya Fi, abang baru saja mendapat telpon dari pihak rumah sakit bandung. Ayah sudah tidak bisa diselamatkan karena kecelakaan maut yang menimpanya. Ayah tidak akan lagi bersama kita Fi” abang melepaskan pelukannya. Kali ini bukan hanya gerimis yang datang. Ini bencana, ini badai dan ini sudah menjadi banjir. Aku sungguh tak menyangka ini akan terjadi secepat ini. Ayah akan pergi selamanya. Ya Tuhan, aku belum tau seperti apa wajah ayah, kenapa kau harus mengambilnya dariku. Ada apa, kenapa? Tak ada pilihan lainkah untuk Kau mencoba dan mengujiku?
            Abang pun membangunkan tubuhku hingga aku berdiri. Dia menyuruhku untuk mandi, kami akan menyusul mayat ayah di rumah sakit Bandung. Hanya kami berdua. Bunda sudah tak mungkin lagi mendengarkan kabar ini. Ah, kenapa ini harus jadi bagianku? Tapi mungkin inilah takdir. Aku tak mampu memberontaknya. Tak mungkin bisa.
            Kami pun menyusuri jalan menuju Bandung dengan mobil yang kata abang ini biasa dipakai saat ayah ke kantor. Ayah punya 2 mobil. Satu khusus ke kantor dan satu lagi ketika ayah keluar kota. Apalah arti kekayaan yang aku miliki ini, jika nyatanya sudah tak ada orang yang mau menikmatinya? Tuhan, jalanmu begitu sangat tak mampu aku reinkarnasi. Setelah beberapa jam dijalan, akhirnya akupun diturunkan dari mobil oleh abang, lalu menyuruhku untuk berpegangan ketangannya. Kami akan menuju ruang mayat. Abang melepaskan peganganku, entah dia kemana, aku hanya mendengarkan teriakannya menyebut ayah. Mungkin dia sudah menemui mayat ayah. Ya Tuhan, aku ingin melihat ayah, aku ingin sekali berbicara pada ayah, bahwa aku masih ingin bersamanya. Abang masih menangis sangat keras, aku pun mencari-cari tubuh abang, aku ingin ada di dekatnya. Abang memelukku. Dia masih menangis. Andaikan aku bisa senormal yang lain, mungkin aku yang akan menenangkanmu bang. Aku tak mau kau rapuh. Abang menarik tanganku. Hingga tangankupun menyentuh tubuh yang sudah berbaring itu. Aku merabanya. “Ayah, Fifi tidak tau harus bilang apa. Fifi masih sangat butuh ayah. Kenapa ayah harus pergi? Selama ini Fifi masih belum sama sekali berduaan dengan ayah seperti apa yang sering ayah lakukan bersama kak Iwan” hatiku hanya mampu berbisik. Aku pun tak mampu menahan air mataku. Segalanya serasa sangat tawar. Sudah tak ada yang istimewa lagi dalam hidupku, semuanya terasa pahit. Abang memegang tanganku erat. Sepertinya dia sangat butuh orang untuk menguatkannya. Kasian abang dia harus sendiri mengurus keluarga ini. Ah,…
            Setelah dua jam berlalu, abang pun mengajakku kembali ke Bogor. Mayat ayah tetap di rumah sakit. Ayah tidak dikuburkan. Abang sudah berbicara pada pihak rumah sakit dan keputusannya ayah tetap abang tempatkan di rumah sakit. Aku tak mengerti apa maksudnya. Abang tak pernah menceritakan alasannya padaku dan aku tak mau bertanya pada abang, karena aku percaya apa yang abang laukan pasti adalah untuk kebaikan semua.
###
            Tiga bulan dari kepergian ayah, aku merasa sangat sepi di rumah yang begitu besar ini, bi Silvi pun sudah beberapa bulan meninggalkan rumah kami, dia harus menemani anaknya menjalani operasinya. Jadi dia tak akan mungkin kembali ke rumah ini lagi. Sedang abang  juga harus disibukkan dengan pekerjaan kantor. Dia harus menggantikan ayah untuk mengurus serta melanjutkan perkantoran ayah. Kali ini aku benar-benar tak punya siapa-siapa.
            Mungkin karena abang tak tega melihatku yang sering sendirian di rumah, saat itu abang pun memutuskan menikah dengan seorang gadis yang baru ia kenal di kantornya. Entah, aku tak tau siapa gadis itu. Abang tak pernah cerita padaku. Pastinya, abang menikah hanya agar aku ada teman dirumah saat ia harus di kantor seharian. Jadi isterinya yang akan merawat dan menjagaku. Padahal bukan orang lain yang aku butuhkan disampingku. Aku hanya butuh abang, aku sudah sangat merindukannya. Aku tak akan mungkin lagi bermain gerimis dengan abang, abang sudah tak punya waktu untuk itu.
            Abang tiba-tiba duduk di dekatku. “Kenapa kau menangis? Abang harus ke kantor Fi. nanti kalau kamu butuh apa-apa, pergi ke kamar abang aja. Minta tolong sama mbak Ayu ya. Dia masih di kamar, merapikan baju-baju yang semalam habis dibawa dari rumahnya. Jangan sungkan-sungkan. Abang berangkat dulu ya.” abang menyisakan kecupannya dikeningku, dia masih sangat menyayangiku. Aku belum tahu wajah abang, ternyata dia sudah menikah. Hm, abang Fifi sangat sayang abang.
###
            Aku merasa rumahku adalah neraka bagiku. Ingin rasanya aku pergi dan menghilang dari rumah ini. Aku sudah tak kuat dengan perlakuan mbak Ayu yang makin hari makin kasar padaku. Mungkin dia sudah tidak kuat melayaniku yang benar-benar tak berguna ini. Tak jarang aku dapati pukulan darinya, bahkan suatu hari ia pernah tak memberi aku makan hingga sampai larut malam dan aku sangat lapar. Abang tak tau soal ini aku tak pernah mengadu padanya. Sedang mbak Ayu jika dihadapan abang selalu bersikap baik dan lembut padaku.
            Aku berlari sekuat tenaga. Aku tak tau arah, sering kali aku terjatuh karna terbentur dengan pohon juga dinding rumah orang. Kakiku mulai terasa sakit. Sepertinya darah mengalir dari jari kakiku. Tapi aku tak peduli, aku masih ingin berlari. Aku ingin sampai di kebun teh ayahku. Aku ingin sampai ditempat itu. Karena aku tahu, disana aku akan tenang, aku akan melupakan sedihku. Aku berharap, hari ini akan turun gerimis. Aku ingin kembali mencoba menghitung sendirian jatuhnya air ditanganku, tanpa bang Iwan… satu-satunya orang yang selalu mampu membuat aku tersenyum, satu-satunya orang yang selalu membuat aku yakin bahwa hidupku berarti.
            Guntur dan petir pun terdengar. Sepertinya hari ini tak hanya akan gerimis, tapi hujan akan jatuh dengan lebat. Aku merasa takut, aku tak ingin hilang karena banjir akan membawa tubuhku ketempat lain. Aku takut bang Iwan tak akan mencariku. Aku tak siap pergi jauh dari abang. Ya Allah, aku benar-benar ingin abang disini bersamaku. Aku sangat merindukannya. Aku tak tahu harus lari kemana jika tak ada dia.
            Seiring dengan tangisanku, tubuhku pun basah karena air yang turun dari langit sangat dahsyat. Aku mencoba menengadahkan tanganku, airnya pun selalu tumpah sebelum berhasil aku jumlah hitunganku. Aku gagal menghitung gerimis hingga aku mulai lelah dan tubuhku pun tersungsur ke tanah.
            Ada yang merangkul tubuhku, aku tak sadarkan diri. Tubuhku benar-benar sudah tak kuat menahan dingin. Tubuhku gemetar. “Fifi, kenapa kau harus disini sayang? Kenapa kau sampai ditempat ini?” suara bang Iwan terdengar ditelingaku. Aku tak mampu menggerakkan tanganku kearah bang Iwan. Aku benar-benar lemas, tubuhku tak berdaya. Saat itu pula bang iwan menggendong tubuhku lalu masuk ke dalam mobilnya. Entah dia akan membawaku kemana. Aku tak tau.
###
Apa yang ada dipikiranmu hingga kau tega membiarkan adik kandungku seharian diguyur hujan di kebun teh hingga sampai malam begini Yu?” aku dengar bang Iwan berteriak, baru kali ini aku mendapatinya begitu marah. “Oh, apa kau pikir aku harus selalu mengikuti kemana dia berjalan? Kau kira aku ini bodyguardnya? Tak ada yang menyuruh dia berjalan sendirian kan? Belagu aja jadi orang! Udah tau buta, masih saja nekad keluar rumah!” mbak Ayu melawan perkataan bang Iwan. “Bruakk!!!” bunyi tamparan itu sangat keras, ada apa dengan bang Iwan? Ah, aku tak mampu bangun dari tempat tidurku. Tubuhku masih sangat lemas. “Kau menamparku Wan! Apa kau tak sadar bahwa aku ini isterimu?” bang Iwan diam. Dia tidak bersuara. “Atau kau memang menikahiku hanya untuk menjadikanku penjaga adikmu yang cacat itu?” hatiku sangat sakit mendengarkan mbak Ayu berbicara seperti itu. Ada bunyi lemparan gelas dari arah luar pintu kamarku. “Keluar dari rumah ini Yu! Jangan kembali lagi! Keluar!!!” bang Iwan berteriak lagi. “Tapi,” mbak Ayu menyela Aku bilang keluar!” bang Iwan marah besar. Tangisanku semakin menjadi. Aku sangat merasa bersalah atas kejadian ini. Abang harus bertengkar dengan isterinya gara-gara ulahku. Tiba-tiba tak ada suara lagi. Mungkin mbak Ayu sudah benar-benar pergi dari rumah ini. “Kau baik-baik saja Fi? Maaf suara abang sampai membuatmu terbangun dari tidurmu” abang tiba-tiba ada di dekatku dan mengelus rambutku. Suaranya kali ini sangat lembut, berbeda dengan yang tadi aku dengarkan. Apakah mungkin karena abang begitu menyayangiku? “Fifi istirahat ya. Lain kali kalau mau main gerimis lagi ajak abang saja. Jangan sendirian. Bahaya. Yaudah abang ganti baju dulu” air mataku mengalir. Aku tahan kepergian abang. Aku pegang erat tangannya. Aku memeluknya. Abang sangat menyayangiku hingga ia rela kehilangan isterinya karena membelaku. “Terimakasih Tuhan, kau sudah memberikan bang Iwan untukku. Aku benar-benar tak tahu bagaimana nasibku jika tak ada abang di sampingku” hatiku mulai merintih. Aku tak ingin kehilangan abang.
###
Hari ini abang harus ke kantor Fi, ada urusan yang harus abang selesaikan dengan cepat. jadi kalau kamu lapar kamu tinggal ke meja belajarmu. Abang udah menyiapkan semuanya disitu. Kau harus makan ya. Di atas meja belajarmu juga udah ada segelas susu, ada juga jus avokat dan melon. Kesukaanmu semua. Ingat, jangan keluar rumah. Abang tak mau kau kenapa-napa lagi” abang mengecup keningku yang masih baru saja bangun tidur. Aku pun bangun dari tempat tidur. “Ohya, abang tidak mau Fifi main gerimis lagi. Abang tak mau Fifi sakit seperti ini. Fifi harus sehat, kuat biar abang bahagia. Oke” Abang mengelus rambutku yang sudah acak-acakan. Dia benar-benar menyayangiku. Secepatnya aku meraba pena di kasurku. Aku meminta abang membuka tangannya. Aku menulis “Abang, Fifi sayang banget sama abang, makasih ya bang” dan aku tutup lagi tangannya. Abang menyusap air mata dipipiku. “Hm, abang juga sayang, jaga dirimu ya. Abang harus pergi sekarang” abang pun melangkahkan kakinya dari hadapanku. Terdengar pula bunyi pintu tertutup, berarti abang sudah keluar dari rumah.
            Setelah beberapa jam dari kepergian abang ke kantor, aku memilih duduk di ruang tamu. Aku ingin menyambut kedatangan abang. Tapi dia belum juga datang, sudah sangat lama, kemungkinan jika aku hitung dengan perkiraanku mungkin udah 19 jam abang tak kembali ke rumah. Ya tuhan, aku tak ingin sesuatu terjadi pada abang. Aku akan tetap menunggunya di sofa ini, aku tak akan pergi kemana-mana sebelum abang datang dan menyuruhku pindah ke kamarku. Hingga akhirnya aku tertidur di sofa itu.
            Dan aku pun terbangun dari tidurku. Ternyata aku masih di atas sofa, berarti tak ada yang menyuruhku pindah ke kamarku atau bahkan tak ada yang menggendong tubuhku yang sudah tertidur ke kamarku. Kemana abangku? Kenapa ia tak kunjung datang? Abang tak biasanya begini.
###
            Abang belum juga datang ke rumah ini. Sudah sangat lama. Mungkin sekitar satu minggu. Aku tak tahu harus bagaimana. Untuk menghubungi handphone abang lewat telephone genggam pun aku tak tahu caranya. Aku harus mencari abang kemana? Ya Tuhan, mungkinkah abang melupakanku karena terlalu sibuk dengan pekerjaan kantornya? Bukankah abang paling tidak suka aku sendirian, lalu mengapa sampai sekarang ia tak pernah lagi muncul di depanku?
            Aku kembali mendengar suara Guntur, ingin rasanya aku keluar bermain gerimis. Tapi aku takut abang akan memarahiku. Air langit pun mulai terdengar turun ke bumi, spontan tanganku mencari tepian dinding, aku ingin menuju pintu keluar. Aku ingin bermain gerimis, sebentar saja, sebelum bang Iwan datang dan menemukanku ada diluar rumah.
            Aku mulai merasakan ada air yang menetes di atas telapak tanganku. Tapi tak seperti biasanya. Airnya jarang kudapati di telapak tanganku. Padahal, dari bunyinya aku pikir sudah sangat deras. Tapi mengapa yang jatuh ditanganku sangat sedikit? Mungkinkah karena diatasku ada atap rumah yang menghalangi air untuk tiba ditanganku? Aku pun semakin melangkah maju untuk mendapatkan gerimis yang lebih banyak, namun sayangnya masih juga tak ada. Ada apa dengan semua ini? Mungkinkah karena aku sudah tak pantas menghitungnya lagi? Padahal aku harap dengan aku mendapatkan gerimis ditanganku, abang akan merasakan apa yang aku rasakan ini. Aku sedang sedih. Aku sedang sepi. Aku sangat membutuhkan abang disampingku. Tapi abang tak pernah datang, mungkin saat ini abang juga sudah tak mungkin lagi meluangkan waktunya untuk bermain gerimis ini.
            Tubuhku duduk tersungkur, aku lelah. Dan tiba-tiba hujan mengguyur tubuhku. Aku pun kembali berdiri, aku meloncat-loncat bahagia, aku benar-benar senang. Serasa ada abang disampingku. Telapak tanganku banjir dari air hujan. Sudah bukan lagi gerimis hingga aku kewalahan untuk menghitungnya. Mungkin ini bertanda sangat besar pula sayang abang padaku. Ya, aku yakin itu. Aku sudah mulai merasa dingin, tubuhku gemetar. Aku melangkah mundur, mau mencari tempat berteduh.
            Aku masih di luar rumah. Tepatnya di teras rumah. Aku masih menunggu abang pulang. Sampai saat ini, belum ada kabar darinya. juga tak ada tetangga atau siapapun yang datang ke rumah ini memberi kabar tentang abangku. Aku tak tau abang ada dimana sekarang. Sudah terlalu lama kami tak berjumpa.
            Semuanya serasa hilang, hidupku hanya dengan gerimis. Sudah tidak ada siapa-siapa lagi disampingku. Ayah, bunda, abang… semuanya sudah pergi dariku. Hah, mungkin ini nasibku, gadis buta dan bisu yang harus menjalani hidupnya sebatangkara.
            “Abang, Fifi masih ingat saat dahulu abang mengajari Fifi menghitung gerimis, Fifi masih ingat bang, kata abang jika kita lagi sedih maka teman paling asyik itu adalah gerimis. Dan sekarang, Fifi benar-benar menjadi teman gerimis bang. Fifi sangat sedih, abang harus tahu, Fifi sudah sangat pandai menghitung gerimis. Andaikan abang pulang kembali kerumah ini, Fifi akan katakan berapa jumlah gerimis yang jatuh ditelapak tangan Fifi. Sangat banyak dan itu adalah jumlah rindu Fifi untuk abang” hatiku menangis. Sungguh, aku sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya mampu menunggu dan berharap suatu saat nanti bang Iwan akan kembali lagi untuk menemaniku menghitung gerimis yang lebih banyak lagi. Di sini.
            Benar kata bang Iwan:
            Gerimis itu mengajari kita tentang hakikat hidup
            Menetes, lalu mengalir
Begitu juga dengan hidup, akan selalu berjalan menyesuaikan dengan putaran waktu.
Jadi, bukan hidup jika kita masih diam.
Aku memang bisu, aku memang buta
Tapi aku tidak pernah diam dalam berproses. Itu yang membuat aku mampu bertahan hidup sampai sekarang. Karena itu, kamu yang memiliki tubuh normal, yang memiliki kesempurnaan lebih dari aku, jangan pernah diam dalam menanggapi kehidupan ini. Agar kamu tidak rugi dan tidak mati tanpa nama.
Terimakasih bang Iwan
Kau sudah banyak mengajariku tentang teka-teki hidup
Hingga pada akhirnya, aku telah berhasil membuat tulisan ini.
Dari huruf menjadi kata dan dari kata menjadi kalimat, yang akhirnya bisa dibaca oleh semua orang di dunia ini. Meski hakikatnya yang menulis adalah gadis buta dan bisu sepertiku.

Malang, 31 Juli 2012

* Cerpen ini salah satu dari kumpulan cerpen Munawara yang bertajuk "Menghitung Gerimis"

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo