“Fi, angkat tanganmu dan tengadahkanlah.
Sebentar lagi gerimis akan datang, abang akan mengajarimu menghitung jatuhnya
gerimis di tanganmu” bang Iwan mengangkatkan tanganku, tangannya dingin mungkin akibat
cuaca pagi yang sangat sejuk apalagi saat ini kami sedang berada di kebun teh milik
ayah daerah Bogor yang letaknya tak begitu jauh dari rumah kami. “Langit sudah
mendung, kita ke bawah pohon di tepi jalan saja” abang menuntunku hingga saatnya aku disuruh untuk
duduk. Lalu abang kembali menyuruhku untuk menengadahkan kedua tanganku. Aku
turuti saja meski nyatanya aku tak mengerti apa makna semua yang ia ajarkan
padaku. Hingga akhirnya aku rasakan beberapa tetes air sudah merintik di telapak
tanganku. “Fi, ini yang biasa abang lakukan ketika dahulu abang menunggu bunda datang kembali ke
tengah-tengah kita. Gerimis inilah yang membuat abang mengerti bahwa sejatinya
hidup itu akan berkelanjutan, menetes lalu mengalir. Jadi kalau Fifi lagi
sedih, main dengan gerimis saja” ucap bang Iwan seraya mencium keningku lalu memeluk tubuhku. “Abang sayang
Fifi” bang Iwan
melepas pelukannya dan gerimispun sudah tak jatuh lagi ditanganku. Mungkin
sudah reda. Abang juga tiba-tiba mengajakku pulang ke rumah dengan menaiki sepeda
ontel kesayangannya. Kami pun meninggalkan kebun teh itu.
###
Namaku Fifi Fahirawati, aku gadis
yang masih berumur 16 tahun. Aku merupakan adik yang di manja oleh abangku,
Iwan Purnama. Dia lelaki yang sangat baik, perhatian, pintar dan pastinya
penyayang. Dia masih berumur 23 tahun, dia sudah lulus S1 di Universitas Bogor jurusan Ilmu Administrasi Publik. Dia termasuk
mahasiswa yang rajin bahkan saat wisuda dia menjadi wisudawan terbaik di
jurusannya. Hingga akhirnya dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2 di
luar Negeri, tapi sayang bang Iwan memilih menemaniku di sini, tidak mau
melanjutkan pendidikannya. Ohya, aku juga punya ayah, dia baik sekali. Tapi
ayah sangat sibuk di kantor jadi sangat jarang aku bersama ayah di rumah. Maka
dari itu bang Iwan lah yang rela menemaniku. Kamu pasti masih bertanya-tanya
mengapa aku harus selalu ditemani? Bukan karena aku manja atau apa, tapi karena aku tidak
sepertimu yang memiliki tubuh normal. Aku buta dan bisu. Sejak aku lahir
keadaan yang aneh ini menimpaku, hingga Bunda kami pergi. Dia merasa malu
memiliki anak sepertiku dia sempat menyuruh ayah untuk menaruhku di panti
asuhan, tapi ayah dan abangku melarang dan akhirnya karena mungkin bunda tak kuat untuk
melayani dan merawatku, dia memilih pergi dari rumah ini. Sampai sekarang dia
tidak pernah muncul ditengah-tengah kami lagi.
Aku memang bisu,
sehingga apa yang aku rasakan dalam hatiku tidak pernah bisa terdengar oleh
siapapun. Tapi satu hal, aku masih bisa menulis, bang
Iwan yang mengajariku menulis abjad-abjad dan akhirnya bisa dirangkai menjadi
kata-kata, tunggu dulu jangan salah sangka. Abang mengajariku menulis bukan
lantas aku bisa melihat bentuk tulisan itu, tapi abang mengajariku dengan cara
memegang tanganku, lalu menggerakkan tanganku sesuai dengan bentuk huruf yang
akan aku tulis. Hingga akhirnya karena terbiasa aku jadi hafal untuk menulis
huruf-huruf itu hingga jadi kata-kata. Begitulah hebatnya abangku, dia selalu
memiliki cara yang unik untuk mengajariku. Sebenarnya dari dulu ayah menyuruh
abang untuk mengantarkanku mendaftar di taman kanak-kanak di dekat rumahku. Tapi abangku menolak
permintaan ayah, dia malah menanggung untuk mengajariku. Kata abang, dia tak
mau aku mendapatkan ejekan atau dicemooh teman-temanku yang memiliki tubuh normal.
Abang selalu hati-hati, dia tidak mau siapapun menyakitiku. Itu yang membuat
aku sangat mencintainya.
###
Pukul 06.30 Wib, kami sudah
berkumpul diruang makan untuk sarapan pagi. Sebentar lagi biasanya ayah
berangkat ke kantor. Sedang aku dan abang jalan-jalan ke daerah perkebunan ayah
untuk menikmati udara yang sangat segar. “Wan, besok ayah harus ke luar kota.
Ada urusan kantor yang harus ayah selesaikan. Jadi kamu harus jaga adikmu
baik-baik” Mendengar percakapan ayah, ingin rasanya aku bilang, “Ayah, Fifi
rindu ayah, kapan ayah ada waktu untuk sekadar menemani Fifi jalan-jalan atau
bermain?” Tapi ah, itu hanya mampu aku bisikkan dalam hati. Ayahpun tak mungkin
mendengarkannya. “Pasti yah. Iwan kan abang yang baik buat Fifi, ya kan Fi?” Abang
mengelus rambutku, lalu memberikanku segelas air untuk aku minum. “Ya, ayah percaya itu, yauda ayah berangkat ke
kantor dulu. Hari ini ayah datang agak
malam, jadi tak usah ditunggu. Tutup pintunya jangan
lupa dikunci Wan. Nanti kalo ayah udah sampai dihalaman rumah, ayah akan hubungi kamu” Ayah adalah
orang yang sangat waspada, dia sangat memperhatikan keselamatan kami semua. “Oke
bos!” ujar bang
Iwan sambil cengengesan. “Kau ini, yaudah assalamualaikum” Ayah pun menyentuh
tanganku bertanda aku harus salaman dan mencium tangan kanan ayah sebagai tanda
penghormatan dari anak pada orang tuanya dan itu biasa aku dan bang Iwan
lakukan. “Bi’ Silvi, jangan lupa rapikan lagi ya meja makannya. Bibi juga jangan lupa
untuk sarapan” ungkap ayah pada bi’ Silvi. Pembantu kami yang berasal dari kampung
sebelah. Bi Silvi sangat baik, dialah yang melayani kebutuhan sehari-hari
keluarga kami. Kami sudah menganggapnya seperti keluarga kami sendiri. “Iya tuan.
Pasti rapi” bi
Silvi menjawab perkataan ayah lalu setelah itu ayah pun sudah tak bersuara
lagi. Mungkin dia sudah keluar dari rumah. “Bi, Iwan dan Fifi keluar dulu ya”
pamit bang Iwan pada bi Silvi seraya menarik tanganku untuk mengikuti
langkahnya. Kami pun pergi ketempat biasa. Kebun teh milik ayah, udaranya masih
segar hah andaikan aku bisa melihat, mungkin kebun ini sangat indah. Aku juga
penasaran seperti apa bentuk matahari yang kata bang Iwan merupakan ciptaan Tuhan yang begitu terang,
rembulan, bintang
dan langit, sepertinya
itu semua sangat indah. “Fi, pulang saja ya. Tiba-tiba abang nggak enak badan,
abang mau istirahat saja di rumah. Maaf ya hari ini abang tak lama menemanimu
bermain di sini. Kita pulang saja” Aku pun mengangguk. Aku khawatir juga pada
keadaan abang. Tak biasanya abang seperti ini. Sakit apa dia?
###
Rumah
sudah sepi, ayah sudah berangkat satu jam yang lalu keluar kota, bibi juga baru
saja pamit harus pulang kampung karena anak laki-lakinya mau di operasi karena
penyakit kankernya. Hanya tinggal aku dan abang di rumah ini. Itupun abang
sekarang masih tak pulih dari sakitnya. Dia tadi malam baru dari rumah sakit,
kata dokter dia harus banyak istirahat. Dia jatuh sakit karena kecapean. Kasian
abang, ini pasti karena aku. Aku juga mulai tak tega membiarkan abang begini
terus-terusan. Kasian dia udah jadi sarjana ternyata kerjaannya hanya menjaga
orang yang tak berguna sepertiku.
Tiba-tiba
aku ingin keluar rumah, aku meraba dinding dari kamarku hingga sampailah di
pintu. Aku dengar sepertinya ada gerimis. Aku pun berusaha sampai di halaman
rumah. Aku ingin kembali merasakan dan menghitung jatuhnya air ditanganku. Aku
tengadahkan tanganku. Dingin, mungkin gerimis sudah mulai berubah menjadi
hujan, air yang jatuh semakin cepat dan sangat deras. Tak kusangka mataku
melinangkan air. Aku rindu bang Iwan. Dia yang biasa menemaniku menghitung
gerimis, sekarang tak ada. Dia sudah sakit. Aku merasa sendiri. Aku merasa
sudah tak ada orang yang peduli padaku. Ya Allah, mengapa aku harus hidup jika
aku tak mampu menjadi orang yang berguna? Siapa yang butuh pada orang bisu dan
buta sepertiku ini?
Aku
kembali kedalam rumah, setelah itu aku kembali meraba-raba dinding hingga
akhirnya sampai ke depan pintu kamar bang Iwan. Aku ketuk lalu aku pun memasuki
kamar itu. Setelah sampai di pinggir kasur bang Iwan, aku mencoba mencari
tangan bang Iwan, aku ingin sekali memegang tangannya. “Kenapa kamu basah kuyup seperti ini
Fi?” abang mengelap tubuhku dari kain yang ia pegang ditangannya. “Kau main
hujan? Bisa-bisa kau sakit jika main hujan!” Suaranya meninggi. Baru kali ini
abang kedengeran marah padaku, abang masih terus saja mengelap tubuhku yang
mulai gemetar karena dingin. “Bang, kata abang jika aku sedih aku harus bermain
dengan gerimis. Makanya tadi aku keluar bang. Aku tengadahkan tanganku lalu aku
bermain dengan gerimis hingga seluruh tubuhku basah” Aku tulis kata-kata itu di
atas kertas yang memang aku pegang. Aku sodorkan pada bang Iwan. Tak lama
kemudian abang memelukku erat. “Apa yang kau rasakan Fi? maaf jika abang tak
menemanimu. Jangan sedih lagi ya, ayah akan cepat pulang dan abang akan cepat
sembuh. Fifi nggak bakalan sepi lagi” abang melepas pelukannya. Aku pun mencoba
tersenyum. Lalu bibir bang Iwan menyentuh keningku. Aku merasa kembali bahagia,
abang telah kembali lagi disampingku.
###
Tiba-tiba
bang Iwan memeluk tubuhku yang masih berbaring diatas kasur. Hingga aku
terbangun dari tidurku. Aku tak mengerti apa yang abang lakukan, dia sangat
erat memeluk tubuhku, dia menangis tersedu. Ada apa ini? “Fi, kau yang sabar
ya. Ayah sudah pergi untuk selamanya Fi, abang baru saja mendapat telpon dari pihak rumah
sakit bandung. Ayah sudah tidak bisa diselamatkan karena kecelakaan maut yang
menimpanya. Ayah tidak akan lagi bersama kita Fi” abang melepaskan
pelukannya. Kali ini bukan hanya gerimis yang datang. Ini bencana, ini badai
dan ini sudah menjadi banjir. Aku sungguh tak menyangka ini akan terjadi
secepat ini. Ayah akan pergi selamanya. Ya Tuhan, aku belum tau seperti apa
wajah ayah, kenapa kau harus mengambilnya dariku. Ada apa, kenapa? Tak ada pilihan lainkah untuk Kau
mencoba dan mengujiku?
Abang
pun membangunkan tubuhku hingga aku berdiri. Dia menyuruhku untuk mandi, kami
akan menyusul mayat ayah di rumah sakit Bandung. Hanya kami berdua. Bunda sudah
tak mungkin lagi mendengarkan kabar ini. Ah, kenapa ini harus jadi bagianku?
Tapi mungkin inilah takdir. Aku tak mampu memberontaknya. Tak mungkin
bisa.
Kami
pun menyusuri jalan menuju Bandung dengan mobil yang kata abang ini biasa
dipakai saat ayah ke kantor. Ayah punya 2 mobil. Satu khusus ke kantor dan satu
lagi ketika ayah keluar kota. Apalah arti kekayaan yang aku miliki ini, jika
nyatanya sudah tak ada orang yang mau menikmatinya? Tuhan, jalanmu begitu
sangat tak mampu aku reinkarnasi. Setelah beberapa jam dijalan, akhirnya akupun
diturunkan dari mobil oleh abang, lalu menyuruhku untuk berpegangan ketangannya.
Kami akan menuju ruang mayat. Abang melepaskan peganganku, entah dia kemana, aku hanya mendengarkan
teriakannya menyebut ayah. Mungkin dia sudah menemui mayat ayah. Ya Tuhan, aku
ingin melihat ayah, aku ingin sekali berbicara pada ayah, bahwa aku masih ingin
bersamanya. Abang masih menangis sangat keras, aku pun mencari-cari tubuh
abang, aku ingin ada di dekatnya. Abang memelukku. Dia masih menangis. Andaikan
aku bisa senormal yang lain, mungkin aku yang akan menenangkanmu bang. Aku tak
mau kau rapuh. Abang menarik tanganku. Hingga tangankupun menyentuh tubuh yang
sudah berbaring itu. Aku merabanya. “Ayah, Fifi tidak tau harus bilang apa. Fifi masih
sangat butuh ayah. Kenapa ayah harus pergi? Selama ini Fifi masih belum sama
sekali berduaan dengan ayah seperti apa yang sering ayah lakukan bersama kak
Iwan” hatiku hanya mampu berbisik. Aku pun tak mampu menahan air mataku.
Segalanya serasa sangat tawar. Sudah tak ada yang istimewa lagi dalam hidupku,
semuanya terasa pahit. Abang memegang tanganku erat. Sepertinya dia sangat
butuh orang untuk menguatkannya. Kasian abang dia harus sendiri mengurus
keluarga ini. Ah,…
Setelah
dua jam berlalu, abang pun mengajakku kembali ke Bogor. Mayat ayah tetap di
rumah sakit. Ayah tidak dikuburkan. Abang sudah berbicara pada pihak rumah
sakit dan keputusannya ayah tetap abang tempatkan di rumah sakit. Aku tak
mengerti apa maksudnya. Abang tak pernah menceritakan alasannya padaku dan aku tak mau bertanya
pada abang, karena aku percaya apa yang abang laukan pasti adalah untuk
kebaikan semua.
###
Tiga
bulan dari kepergian ayah, aku merasa sangat sepi di rumah yang begitu besar
ini, bi Silvi pun sudah beberapa bulan meninggalkan rumah kami, dia harus
menemani anaknya menjalani operasinya. Jadi dia tak akan mungkin kembali ke
rumah ini lagi. Sedang abang juga harus
disibukkan dengan pekerjaan kantor. Dia harus menggantikan ayah untuk mengurus
serta melanjutkan perkantoran ayah. Kali ini aku benar-benar tak punya
siapa-siapa.
Mungkin
karena abang tak tega melihatku yang sering sendirian di rumah, saat itu abang
pun memutuskan menikah dengan seorang gadis yang baru ia kenal di kantornya.
Entah, aku tak tau siapa gadis itu. Abang tak pernah cerita padaku. Pastinya,
abang menikah hanya agar aku ada teman dirumah saat ia harus di kantor
seharian. Jadi isterinya yang akan merawat dan menjagaku. Padahal bukan orang
lain yang aku butuhkan disampingku. Aku hanya butuh abang, aku sudah sangat
merindukannya. Aku tak akan mungkin lagi bermain gerimis dengan abang, abang sudah tak punya waktu
untuk itu.
Abang
tiba-tiba duduk di dekatku. “Kenapa kau menangis? Abang harus ke kantor Fi. nanti kalau kamu butuh
apa-apa, pergi ke kamar abang aja. Minta tolong sama mbak Ayu ya. Dia masih
di kamar, merapikan baju-baju yang semalam habis dibawa dari rumahnya. Jangan
sungkan-sungkan. Abang berangkat dulu ya.” abang menyisakan kecupannya dikeningku, dia masih
sangat menyayangiku. Aku belum tahu wajah abang, ternyata dia sudah menikah.
Hm, abang Fifi sangat sayang abang.
###
Aku
merasa rumahku adalah neraka bagiku. Ingin rasanya aku pergi dan menghilang
dari rumah ini. Aku sudah tak kuat dengan perlakuan mbak Ayu yang makin hari
makin kasar padaku. Mungkin dia sudah tidak kuat melayaniku yang benar-benar
tak berguna ini. Tak jarang aku dapati pukulan darinya, bahkan suatu hari ia
pernah tak memberi aku makan hingga sampai larut malam dan aku sangat lapar.
Abang tak tau soal ini aku tak pernah mengadu padanya. Sedang mbak Ayu jika
dihadapan abang selalu bersikap baik dan lembut padaku.
Aku
berlari sekuat tenaga. Aku tak tau arah, sering kali aku terjatuh karna
terbentur dengan pohon juga dinding rumah orang. Kakiku mulai terasa sakit.
Sepertinya darah mengalir dari jari kakiku. Tapi aku tak peduli, aku masih
ingin berlari. Aku ingin sampai di kebun teh ayahku. Aku ingin sampai ditempat
itu. Karena aku tahu, disana aku akan tenang, aku akan melupakan sedihku. Aku
berharap, hari ini akan turun gerimis. Aku ingin kembali mencoba menghitung
sendirian jatuhnya air ditanganku, tanpa bang Iwan… satu-satunya orang yang
selalu mampu membuat aku tersenyum, satu-satunya orang yang selalu membuat aku
yakin bahwa hidupku berarti.
Guntur
dan petir pun terdengar. Sepertinya hari ini tak hanya akan gerimis, tapi
hujan akan jatuh dengan lebat. Aku merasa takut, aku tak ingin hilang karena
banjir akan membawa tubuhku ketempat lain. Aku takut bang Iwan tak akan
mencariku. Aku tak siap pergi jauh dari abang. Ya Allah, aku benar-benar ingin
abang disini bersamaku. Aku sangat merindukannya. Aku tak tahu harus lari kemana
jika tak ada dia.
Seiring
dengan tangisanku, tubuhku pun basah karena air yang turun dari langit sangat
dahsyat. Aku mencoba menengadahkan tanganku, airnya pun selalu tumpah sebelum
berhasil aku jumlah hitunganku. Aku gagal menghitung gerimis hingga aku mulai
lelah dan tubuhku pun tersungsur ke tanah.
Ada
yang merangkul tubuhku, aku tak sadarkan diri. Tubuhku benar-benar sudah tak
kuat menahan dingin. Tubuhku gemetar. “Fifi, kenapa kau harus disini sayang? Kenapa kau sampai
ditempat ini?” suara bang Iwan terdengar ditelingaku. Aku tak mampu
menggerakkan tanganku kearah bang Iwan. Aku benar-benar lemas, tubuhku tak
berdaya. Saat itu pula bang iwan menggendong tubuhku lalu masuk ke dalam
mobilnya. Entah dia akan membawaku kemana. Aku tak tau.
###
“Apa yang ada dipikiranmu
hingga kau tega membiarkan adik kandungku seharian diguyur hujan di kebun teh
hingga sampai malam begini Yu?” aku dengar bang Iwan berteriak, baru kali ini
aku mendapatinya begitu marah. “Oh, apa kau pikir aku harus selalu mengikuti kemana dia berjalan? Kau kira aku
ini bodyguardnya? Tak ada yang
menyuruh dia berjalan sendirian kan? Belagu aja jadi orang! Udah tau buta,
masih saja nekad keluar rumah!” mbak Ayu melawan perkataan bang Iwan. “Bruakk!!!” bunyi tamparan
itu sangat keras, ada apa dengan bang Iwan? Ah, aku tak mampu bangun dari
tempat tidurku. Tubuhku masih sangat lemas. “Kau menamparku Wan! Apa kau tak sadar bahwa aku ini
isterimu?” bang Iwan diam. Dia tidak bersuara. “Atau kau memang menikahiku hanya untuk menjadikanku
penjaga adikmu yang cacat itu?” hatiku sangat sakit mendengarkan mbak Ayu
berbicara seperti itu. Ada bunyi lemparan gelas dari arah luar pintu kamarku. “Keluar dari rumah ini Yu!
Jangan kembali lagi! Keluar!!!” bang Iwan berteriak lagi. “Tapi,” mbak
Ayu menyela “Aku bilang keluar!” bang Iwan marah besar.
Tangisanku semakin menjadi. Aku sangat merasa bersalah atas kejadian ini. Abang
harus bertengkar dengan isterinya gara-gara ulahku. Tiba-tiba tak ada suara
lagi. Mungkin mbak Ayu sudah benar-benar pergi dari rumah ini. “Kau baik-baik saja Fi? Maaf suara abang sampai
membuatmu terbangun dari tidurmu” abang tiba-tiba ada di dekatku dan mengelus
rambutku. Suaranya kali ini sangat lembut, berbeda dengan yang tadi aku
dengarkan. Apakah mungkin karena abang begitu menyayangiku? “Fifi istirahat ya.
Lain kali kalau mau main gerimis lagi ajak abang saja. Jangan sendirian. Bahaya. Yaudah abang ganti
baju dulu” air mataku mengalir. Aku tahan kepergian abang. Aku pegang erat
tangannya. Aku memeluknya. Abang sangat menyayangiku hingga ia rela kehilangan
isterinya karena membelaku. “Terimakasih Tuhan, kau sudah memberikan bang Iwan
untukku. Aku benar-benar tak tahu bagaimana nasibku jika tak ada abang di
sampingku” hatiku
mulai merintih. Aku tak ingin kehilangan abang.
###
“Hari ini abang harus ke
kantor Fi, ada urusan yang harus abang selesaikan dengan cepat. jadi kalau kamu
lapar kamu tinggal ke meja belajarmu. Abang udah menyiapkan semuanya disitu.
Kau harus makan ya. Di atas meja belajarmu juga udah ada segelas susu, ada juga
jus avokat dan melon. Kesukaanmu semua. Ingat, jangan keluar rumah. Abang tak
mau kau kenapa-napa lagi” abang mengecup keningku yang masih baru saja bangun
tidur. Aku pun bangun dari tempat tidur. “Ohya, abang tidak mau Fifi main gerimis lagi. Abang tak mau Fifi sakit seperti ini.
Fifi harus sehat, kuat biar abang bahagia. Oke” Abang mengelus rambutku yang sudah acak-acakan. Dia
benar-benar menyayangiku. Secepatnya aku meraba pena di kasurku. Aku meminta
abang membuka tangannya. Aku menulis “Abang, Fifi sayang banget sama abang, makasih ya bang” dan aku
tutup lagi tangannya. Abang menyusap air mata dipipiku. “Hm, abang juga sayang, jaga dirimu ya. Abang
harus pergi sekarang” abang pun melangkahkan kakinya dari hadapanku. Terdengar
pula bunyi pintu tertutup, berarti abang sudah keluar dari rumah.
Setelah
beberapa jam dari kepergian abang ke kantor, aku memilih duduk di ruang tamu. Aku
ingin menyambut kedatangan abang. Tapi dia belum juga datang, sudah sangat
lama, kemungkinan jika aku hitung dengan perkiraanku mungkin udah 19 jam abang
tak kembali ke rumah. Ya tuhan, aku tak ingin sesuatu terjadi pada abang. Aku
akan tetap menunggunya di sofa ini, aku tak akan pergi kemana-mana sebelum
abang datang dan menyuruhku pindah ke kamarku. Hingga akhirnya aku tertidur di
sofa itu.
Dan
aku pun terbangun dari tidurku. Ternyata aku masih di atas sofa, berarti tak
ada yang menyuruhku pindah ke kamarku atau bahkan tak ada yang menggendong
tubuhku yang sudah tertidur ke kamarku. Kemana abangku? Kenapa ia tak kunjung
datang? Abang tak biasanya begini.
###
Abang
belum juga datang ke rumah ini. Sudah sangat lama. Mungkin sekitar satu minggu.
Aku tak tahu harus bagaimana. Untuk menghubungi handphone abang lewat telephone
genggam pun aku tak tahu caranya. Aku harus mencari abang kemana? Ya Tuhan,
mungkinkah abang melupakanku karena terlalu sibuk dengan pekerjaan kantornya? Bukankah
abang paling tidak suka aku sendirian, lalu mengapa sampai sekarang ia tak
pernah lagi muncul di depanku?
Aku
kembali mendengar suara Guntur, ingin rasanya aku keluar bermain gerimis. Tapi
aku takut abang akan memarahiku. Air langit pun mulai terdengar turun ke bumi,
spontan tanganku mencari tepian dinding, aku ingin menuju pintu keluar. Aku
ingin bermain gerimis, sebentar saja, sebelum bang Iwan datang dan menemukanku
ada diluar rumah.
Aku
mulai merasakan ada air yang menetes di atas telapak tanganku. Tapi tak seperti
biasanya. Airnya jarang kudapati di telapak tanganku. Padahal, dari bunyinya
aku pikir sudah sangat deras. Tapi mengapa yang jatuh ditanganku sangat
sedikit? Mungkinkah karena diatasku ada atap rumah yang menghalangi air untuk
tiba ditanganku? Aku pun semakin melangkah maju untuk mendapatkan gerimis yang
lebih banyak, namun sayangnya masih juga tak ada. Ada apa dengan semua ini? Mungkinkah
karena aku sudah tak pantas menghitungnya lagi? Padahal aku harap dengan aku
mendapatkan gerimis ditanganku, abang akan merasakan apa yang aku rasakan ini.
Aku sedang sedih. Aku sedang sepi. Aku sangat membutuhkan abang disampingku.
Tapi abang tak pernah datang, mungkin saat ini abang juga sudah tak mungkin
lagi meluangkan waktunya untuk bermain gerimis ini.
Tubuhku
duduk tersungkur, aku lelah. Dan tiba-tiba hujan mengguyur tubuhku. Aku pun
kembali berdiri, aku meloncat-loncat bahagia, aku benar-benar senang. Serasa
ada abang disampingku. Telapak tanganku banjir dari air hujan. Sudah bukan lagi
gerimis hingga aku kewalahan untuk menghitungnya. Mungkin ini bertanda sangat
besar pula sayang abang padaku. Ya, aku yakin itu. Aku sudah mulai merasa
dingin, tubuhku gemetar. Aku melangkah mundur, mau mencari tempat berteduh.
Aku
masih di luar rumah. Tepatnya di teras rumah. Aku masih menunggu abang pulang.
Sampai saat ini, belum ada kabar darinya. juga tak ada tetangga atau siapapun
yang datang ke rumah ini memberi kabar tentang abangku. Aku tak tau abang ada
dimana sekarang. Sudah terlalu lama kami tak berjumpa.
Semuanya
serasa hilang, hidupku hanya dengan gerimis. Sudah tidak ada siapa-siapa lagi
disampingku. Ayah, bunda, abang… semuanya sudah pergi dariku. Hah, mungkin ini nasibku,
gadis buta dan bisu yang harus menjalani hidupnya sebatangkara.
“Abang, Fifi masih ingat
saat dahulu abang mengajari Fifi menghitung gerimis, Fifi masih ingat bang,
kata abang jika kita lagi sedih maka teman paling asyik itu adalah gerimis. Dan
sekarang, Fifi benar-benar menjadi teman gerimis bang. Fifi sangat sedih, abang
harus tahu, Fifi sudah sangat pandai menghitung gerimis. Andaikan abang pulang
kembali kerumah ini, Fifi akan katakan berapa jumlah gerimis yang jatuh ditelapak
tangan Fifi. Sangat banyak dan itu adalah jumlah rindu Fifi untuk abang”
hatiku menangis. Sungguh, aku sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku hanya
mampu menunggu dan berharap suatu saat nanti bang Iwan akan kembali lagi untuk
menemaniku menghitung gerimis yang lebih banyak lagi. Di sini.
Benar
kata bang Iwan:
Gerimis
itu mengajari kita tentang hakikat hidup
Menetes,
lalu mengalir
Begitu juga
dengan hidup, akan selalu berjalan menyesuaikan dengan putaran waktu.
Jadi, bukan hidup
jika kita masih diam.
Aku memang bisu,
aku memang buta
Tapi aku tidak
pernah diam dalam berproses. Itu yang membuat aku mampu bertahan hidup sampai
sekarang. Karena itu, kamu yang memiliki tubuh normal, yang memiliki
kesempurnaan lebih dari aku, jangan pernah diam dalam menanggapi kehidupan ini. Agar kamu tidak
rugi dan tidak mati tanpa nama.
Terimakasih bang
Iwan
Kau sudah banyak
mengajariku tentang teka-teki hidup
Hingga pada
akhirnya, aku telah berhasil membuat tulisan ini.
Dari huruf
menjadi kata dan dari kata menjadi kalimat, yang akhirnya bisa dibaca oleh
semua orang di dunia ini. Meski hakikatnya yang menulis adalah gadis buta dan
bisu sepertiku.
Malang, 31 Juli 2012
* Cerpen ini salah satu dari kumpulan cerpen Munawara yang bertajuk "Menghitung Gerimis"
08.38
PENA KAMPUS

Posted in: 


0 komentar:
Posting Komentar