April 01, 2013

Lab Komunikasi Jembatan Kesuksesan



Beberapa hari yang lalu kita mengadakan pertemuan untuk membahas eksistensi dan futur Lab Komunikasi. Dalam pertemuan tersebut manghasilkan dua keputusan. Pertama, kita menyatukan visi untuk membawa Lab Komunikasi ke arah yang lebih progres dan dinamis. Kedua, kita berkomitmen meramaikan Lab Komunikasi dengan kegiatan-kegiatan ilmiah. Bahkan kita siap memajukan prodi Ilmu Komunikasi menjadi prodi yang unggul di antara prodi yang lain.

Semangat menciptakan perubahan di internal Lab Komunikasi perlu diberikan apresiasi tinggi khususnya dosen-dosen komunikasi dan umumnya semua dosen fakultas Fisipol. Semakin diperhatikan mereka (mahasiswa) maka secara tidak langsung telah mengompori semangatnya untuk selalu melakukan terobosan-terobosan baru. Sebagai pendidik seyogyanya bagga mempunyai anak didik yang progresif.
Disadari atau tidak, selama ini Lab Komunikasi berada di persimpangan jalan, seakan bingung apa yang harus dilakukan. Kondisi demikian mengaburkan fungsi Lab Komunikasi sebagai jembatan kita mengembangkan wawasan dalam rangka mengukir segudang prestasi. Lab Komunikasi tidak berdaya memancing kita untuk sering berkarya dan meningkatkan kesadaran pentingnya belajar.
Hal ini semakin diperparah dengan sungkan dan malasnya kita menginjakkan kaki di Lab Komunikasi. Tak heran jika kemudian muncul istilah “ngapain sih ke Lab Komunikasi paling itut-itu saja yang dilakukan”. Lab Komunikasi tak ubahnya seperti tempat angker yang membuat kita keteteran berkunjung kalau tidak dasari kepentingan yang mendesak. Dari sekian banyak mahasiswa yang sering menampakkan muka di Lab Komunikasi bisa dihitung dengan jari, itupun hanya orang-orang itu saja
Kebekuan Lab Komunikasi secara tidak langsung membunuh kretifitas kita. Idealnya kita sebagai mahasiswa harus menjemput bola bukan menunggu bola. Artinya, kita harus pandai menciptakan iklim kehidupan jika ingin sukses. Tapi paling tidak Lab Komunikasi mampu menularkan virus semangat belajar supaya manfaat Lab Komunikasi dapat kita rasakan dalam kehidupan akademik.
Tulisan ini bukan mencari kambing hitam, melainkan melacak realitas yang ada kemudian mengajak kita untuk bangkit dari keterbelakangan dan menyadarkan bahwa kita belum bertaring ketika berinteraksi dengan warga kampus lain. Nah, ini yang perlu diperbaiki bersama agar kita tidak merasakan kejamnya penyesalan di kemudian hari.
Mengejewantahkan perubahan tidak semudah yang diucapkan, tentuya banyak batu sandungan yang bakal kita jumpai baik internal maupun eksternal. rintangan internal kita harus mampu mematikan segala bentuk keinginan yang mencederai nilai-nilai perubahan sedangkan rintangan eksternal kita harus pandai menjaga diri dari lingkungan yang tidak edukatif dan pergaulan yang sekiranya menenggelamkan cita-cita kita.
     Niat memajukan Lab Komunikasi dikonkretkan dengan langganan surat kabar (Kompas dan Surya) dan membuat buletin (yang saat ini di tangan anda) merupakan  bukti bahwa kita ingin lebih dinamis. Kendati yang kita lakukan tergolong hal yang kecil, tapi dalam konteks dunia kampus yang aksentuasinya pada proses pembelajaran termasuk luar biasa.
Fasilitas Lab Komunikasi memang jauh dari harapan kita. Maka dari itu, keterbatasan fasilitas Lab Komunikasi bukan kendala bagi kita untuk berkarya. Kekurangan ini mari kita jadikan pemicu dan pemompa semangat untuk menorehkan prestasi gemilang. Dimana ada kemauan disitu pasti ada jalan keluarnya, selama kita berusaha dan berjuang pintu kemengan pasti akan terbuka 24 jam. Selamat berjuang!. (Yanto Elga)

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo