Beberapa hari yang lalu kita
mengadakan pertemuan untuk membahas eksistensi dan futur Lab Komunikasi. Dalam
pertemuan tersebut manghasilkan dua keputusan. Pertama, kita menyatukan
visi untuk membawa Lab Komunikasi ke arah yang lebih progres dan dinamis. Kedua,
kita berkomitmen meramaikan Lab Komunikasi dengan kegiatan-kegiatan ilmiah.
Bahkan kita siap memajukan prodi Ilmu Komunikasi menjadi prodi yang unggul di
antara prodi yang lain.
Semangat menciptakan perubahan di
internal Lab Komunikasi perlu diberikan apresiasi tinggi khususnya dosen-dosen
komunikasi dan umumnya semua dosen fakultas Fisipol. Semakin diperhatikan
mereka (mahasiswa) maka secara tidak langsung telah mengompori semangatnya
untuk selalu melakukan terobosan-terobosan baru. Sebagai pendidik seyogyanya
bagga mempunyai anak didik yang progresif.
Disadari atau tidak, selama ini Lab
Komunikasi berada di persimpangan jalan, seakan bingung apa yang harus
dilakukan. Kondisi demikian mengaburkan fungsi Lab Komunikasi sebagai jembatan
kita mengembangkan wawasan dalam rangka mengukir segudang prestasi. Lab
Komunikasi tidak berdaya memancing kita untuk sering berkarya dan meningkatkan
kesadaran pentingnya belajar.
Hal ini semakin diperparah dengan
sungkan dan malasnya kita menginjakkan kaki di Lab Komunikasi. Tak heran jika
kemudian muncul istilah “ngapain sih ke Lab Komunikasi paling itut-itu saja
yang dilakukan”. Lab Komunikasi tak ubahnya seperti tempat angker yang
membuat kita keteteran berkunjung kalau tidak dasari kepentingan yang mendesak.
Dari sekian banyak mahasiswa yang sering menampakkan muka di Lab Komunikasi
bisa dihitung dengan jari, itupun hanya orang-orang itu saja
Kebekuan Lab Komunikasi secara tidak
langsung membunuh kretifitas kita. Idealnya kita sebagai mahasiswa harus
menjemput bola bukan menunggu bola. Artinya, kita harus pandai menciptakan
iklim kehidupan jika ingin sukses. Tapi paling tidak Lab Komunikasi mampu
menularkan virus semangat belajar supaya manfaat Lab Komunikasi dapat kita
rasakan dalam kehidupan akademik.
Tulisan ini bukan mencari kambing
hitam, melainkan melacak realitas yang ada kemudian mengajak kita untuk bangkit
dari keterbelakangan dan menyadarkan bahwa kita belum bertaring ketika
berinteraksi dengan warga kampus lain. Nah, ini yang perlu diperbaiki
bersama agar kita tidak merasakan kejamnya penyesalan di kemudian hari.
Mengejewantahkan perubahan tidak
semudah yang diucapkan, tentuya banyak batu sandungan yang bakal kita jumpai
baik internal maupun eksternal. rintangan internal kita harus mampu mematikan
segala bentuk keinginan yang mencederai nilai-nilai perubahan sedangkan
rintangan eksternal kita harus pandai menjaga diri dari lingkungan yang tidak
edukatif dan pergaulan yang sekiranya menenggelamkan cita-cita kita.
Niat
memajukan Lab Komunikasi dikonkretkan dengan langganan surat kabar (Kompas dan
Surya) dan membuat buletin (yang saat ini di tangan anda) merupakan bukti
bahwa kita ingin lebih dinamis. Kendati yang kita lakukan tergolong hal yang
kecil, tapi dalam konteks dunia kampus yang aksentuasinya pada proses
pembelajaran termasuk luar biasa.
Fasilitas Lab Komunikasi memang jauh
dari harapan kita. Maka dari itu, keterbatasan fasilitas Lab Komunikasi bukan
kendala bagi kita untuk berkarya. Kekurangan ini mari kita jadikan pemicu dan
pemompa semangat untuk menorehkan prestasi gemilang. Dimana ada kemauan disitu
pasti ada jalan keluarnya, selama kita berusaha dan berjuang pintu kemengan
pasti akan terbuka 24 jam. Selamat berjuang!. (Yanto Elga)
10.02
PENA KAMPUS



0 komentar:
Posting Komentar