Pengembangan intelektual mahasiswa
pada satu sisi tidak bisa dilepaskan dari keberadaan pers kampus ataupun pers
mahasiswa. Begitu juga kalau direlevansikan dengan kampus sebagai lembaga
pendidikan mahasiswa. Kehadiran pers menjadi sangat urgen untuk mengembangkan
kampus ke depan yang lebih baik. Dalam artian, pada aspek yang lain, keberadaan
pers kampus dan pers mahasiswa bisa menjadi alat kontrol atau media yang
berupaya untuk menguraikan fakta riil kondisi kampus sehingga kalau kemudian
ada kejanggalan bisa cepat diperbaiki.
Dalam sejarah dan perkembangannya,
ternyata pers, baik itu pers kampus ataupun pers mahasiswa mengalami
perkembangan yang relatif lama. Yakni dimulai dari zaman penjajahan belanda,
yang menurut Siregar (1983) dalam buku Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik
karya Mondry S.Sos dipengaruhi oleh gerakan kemahasiswaan dan kebangsaan.
Selanjutnya pada zaman penjajahan Jepang, zaman sesudah kemerdekaan RI, zaman
Demokrasi Terpimpin, zaman Orde Baru I pada tahun 1974-1980 hingga zaman Orde
Baru II yang dimulai tahun 1980 sampai sekarang yang semakin mengalami
perkembangan di wilayah kampus.
Berbicara masalah optimalisasi peran
pers kampus khususnya di Unitri, sepertinya tidak absah kalau tidak menelisik
terlebih dahulu sejarah pers kampus di Unitri dan perkembangannya sampai hari
ini. Sebab, suguhan fenomena pers kampus Unitri hari ini yang notabene
ditukangi oleh kaum akademik ternyata
dalam perjalanannya masih terseok-seok. Waktu penerbitan yang masih belum
istiqomah atau konsisten hingga kualitas tulisan yang masih butuh perbaikan dan
pelatihan lebih jauh.
Menilik sejarah perkembangan pers di
Unitri, Aldon Sinaga di meja tugasnya mengatakan sejak tahun 1996-1997 Unitri
telah memiliki media cetak Ika Buana yang dikelola langsung oleh dosen. Namun
setelah itu mengalami stagnansi cukup lama. Tahun 2001-an beberapa upaya untuk
merintis media pun dilakukan namun belum juga menuai hasil. Baru kemudian tahun
2008 pihak akademik kampus bekerja sama dengan atau berkomitmen dengan pengurus
Badan Eksekutif Mahasiswa merintis media bernama Executive News yang belakangan
berganti nama menjadi Tri Media.
Di tahun 2010 mulai bermunculan
media baru. Di antaranya Cakrawala (media Humas Unitri) dan Pena Kampus yang
masing-masing terbit satiap bulan. Perkembangan pers yang diharapkan
benar-benar menjadi media informasi dan wahana pengembangan intelektual
mahasiswa ini sungguh cukup baik.
Sungguh pun demikian, dalam
perkembangannya, pers di Unitri masih perlu upaya-upaya peningkatan kualitas
tulisan dan konsistensi penerbitan. Hal ini bisa dilihat dari kondisi riil pers
kampus yang secara penerbitan masih belum konsisten, topik masih kurang menarik
dan variatif, serta kualitas penyajian atau tulisan yang masih ngambang (untuk
tidak mengatakan rendah).
Namun, apabila dikomparasikan dengan beberapa
tahun yang lalu, pers kampus saat ini sudah mengalami perkembangan yang cukup
bagus. Hal ini diungkapkan oleh Misrawi, mahasiswa jurusan Administrasi Negara
yang beberapa tulisannya sudah berhasil dimuat di beberapa media massa bahwa
kondisi pers kampus saat ini sudah ada perbaikan dari tahun-tahun kemarin.
Secara kultural, pers kampus yang
identik dengan jurnalistik atau tulis menulis tidak berbanding lurus dengan
minat mahasiswa dalam dunia tulis menulis. Misrawi mengungkapkan bahwa minat
mahasiswa untuk berkarya dalam kepenulisan masih minim. “Dalam konteks Unitri
masih gersang dengan tulis menulis” jelasnya.
Akhirul Aminullah, S.Sos, M.Si saat
ditemui di ruangannya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, mengatakan bahwa
pers kampus sudah cukup berkembang. “Pers di Unitri cukup berjalan tetapi kurang
maksimal,” ungkapnya datar. Dilihat dari segi peran, Akhirul menegaskan peran
pers masih belum sepenuhnya menyentuh kewilayahan mahasiswa. Hal ini bisa
diamati bagaimana para jurnalis atau
pers kampus secara kelembagaan masih belum maksimal memainkan peran pers. Alhasil,
pers kampus kurang begitu kuat menarik minat mahasiswa untuk membacanya.
Sementara itu, menyinggung masalah
tingkat partisipasi mahasisswa, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi itu
mengatakan bahwa tingkat partisipasi dan apresiasi mahasiswa terhadap
keberadaan pers masih kurang. Mahasiswa masih menganggap pers kampus kurang
menarik. Akhirul menambahkan bahwa hal ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan
mahasiswa yang membanding-bandingkan kualitas pers kampus dengan pers secara
umum.
Secara substansial, pers kampus
sebenarnya dipersiapkan untuk mengembangkan intelektual mahasiswa dan
pengembangan Universitas secara umum. “Pers itu mejadi wadah dari aspirasi
masyarakat kampus dalam hal ini mahasiswa,” kata Akhirul. Orang nomor satu di
jurusan Ilmu Komunikasi ini mengungkapkan bahwa mahasiswa mampu menuangkan
pikiran dan aspirasinya melalui media ini.
Akhirul juga menilai media atau pers
kampus merupakan media pembelajaran mahasiswa di dalam tulis menulis utamanya
jurnalistik dan lainnya. Hal senada juga disampaikan oleh Misrawi, “Media
merupakan wadah untuk mengekspresikan kemampuan tulis menulis”.
Kesuburan perkembangan pers kampus
ataupun pers mahasiswa dari tahun 2008 hingga tahun 2011 juga dinilai bagus
oleh Aldon Sinaga. Menurut direktur akadamik yang diangkat pada tahun 2004 ini,
banyak orang berpendapat ada unsur-unsur kompetisi. “Sebetulnya saya melihat
tidak ada kompetisi karena kalian itu backgroundnya lain-lain, cuma jati
dirinya tidak dapet”.
Berbeda dengan Aldon, ditelisik dari
aspek tulisan, Carmia Diahloka, S.Sos, M.Si mengatakan ada beberapa tulisan
yang belum memakai kaidah-kaidah yang benar dalam penulisan dan penyampaian
informasi. Seperti penulisan nara sumber dan nama gelar yang terkesan apa
adanya. Pembina media cakrawala ini juga menilai topik yang
diperbincangkan pers kampus sudah
lumayan bagus, setidaknya untuk pemula sudah sesuai namun yang perlu dibenahi
adalah dari aspek kualitas isinya.
Oleh sebab itu, dosen prodi Ilmu
Komunikasi yang kerap dipanggil Ibu Mia ini menilai kehadiran pers di ranah
kampus sangat perlu. Keberadaan pers bisa menjadi masukan bagi lembaga, terus
juga untuk menambah pengetahuan mahasiswa. “Tapi jangan lupa harus ada kode
etiknya,” lanjut Carmia.
Apa yang telah diungkapkan oleh
beberapa nara sumber yang sempat diwawancarai oleh crew Pena memang benar
adanya. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh mahasiswa
secara umum dan para jurnalis kampus
khususnya. Karenanya, tidak berlebihan jika persoalan-persoalan mendasar
seperti yang telah diungkapkan di atas dijadikan pelecut geliat para jurnalis
kampus untuk meningkatkan kualitas personalnya dalam dunia jurnalistik. Pun
Secara kelembagaan, hal tersebut perlu
dijadikan lokomotif perubahan signifikan bagi kualitas pers kampus ke depan.
Lola A, Syakdiyatul, Latif FA
09.59
PENA KAMPUS
Posted in: 


0 komentar:
Posting Komentar