April 01, 2013

Menilik Sejarah Perkembangan Pers di Unitri



Pengembangan intelektual mahasiswa pada satu sisi tidak bisa dilepaskan dari keberadaan pers kampus ataupun pers mahasiswa. Begitu juga kalau direlevansikan dengan kampus sebagai lembaga pendidikan mahasiswa. Kehadiran pers menjadi sangat urgen untuk mengembangkan kampus ke depan yang lebih baik. Dalam artian, pada aspek yang lain, keberadaan pers kampus dan pers mahasiswa bisa menjadi alat kontrol atau media yang berupaya untuk menguraikan fakta riil kondisi kampus sehingga kalau kemudian ada kejanggalan bisa cepat diperbaiki.
Dalam sejarah dan perkembangannya, ternyata pers, baik itu pers kampus ataupun pers mahasiswa mengalami perkembangan yang relatif lama. Yakni dimulai dari zaman penjajahan belanda, yang menurut Siregar (1983) dalam buku Pemahaman Teori dan Praktik Jurnalistik karya Mondry S.Sos dipengaruhi oleh gerakan kemahasiswaan dan kebangsaan. Selanjutnya pada zaman penjajahan Jepang, zaman sesudah kemerdekaan RI, zaman Demokrasi Terpimpin, zaman Orde Baru I pada tahun 1974-1980 hingga zaman Orde Baru II yang dimulai tahun 1980 sampai sekarang yang semakin mengalami perkembangan di wilayah kampus.
Berbicara masalah optimalisasi peran pers kampus khususnya di Unitri, sepertinya tidak absah kalau tidak menelisik terlebih dahulu sejarah pers kampus di Unitri dan perkembangannya sampai hari ini. Sebab, suguhan fenomena pers kampus Unitri hari ini yang notabene ditukangi oleh  kaum akademik ternyata dalam perjalanannya masih terseok-seok. Waktu penerbitan yang masih belum istiqomah atau konsisten hingga kualitas tulisan yang masih butuh perbaikan dan pelatihan lebih jauh.
Menilik sejarah perkembangan pers di Unitri, Aldon Sinaga di meja tugasnya mengatakan sejak tahun 1996-1997 Unitri telah memiliki media cetak Ika Buana yang dikelola langsung oleh dosen. Namun setelah itu mengalami stagnansi cukup lama. Tahun 2001-an beberapa upaya untuk merintis media pun dilakukan namun belum juga menuai hasil. Baru kemudian tahun 2008 pihak akademik kampus bekerja sama dengan atau berkomitmen dengan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa merintis media bernama Executive News yang belakangan berganti nama menjadi Tri Media.
Di tahun 2010 mulai bermunculan media baru. Di antaranya Cakrawala (media Humas Unitri) dan Pena Kampus yang masing-masing terbit satiap bulan. Perkembangan pers yang diharapkan benar-benar menjadi media informasi dan wahana pengembangan intelektual mahasiswa ini sungguh cukup baik.
Sungguh pun demikian, dalam perkembangannya, pers di Unitri masih perlu upaya-upaya peningkatan kualitas tulisan dan konsistensi penerbitan. Hal ini bisa dilihat dari kondisi riil pers kampus yang secara penerbitan masih belum konsisten, topik masih kurang menarik dan variatif, serta kualitas penyajian atau tulisan yang masih ngambang (untuk tidak mengatakan rendah).
 Namun, apabila dikomparasikan dengan beberapa tahun yang lalu, pers kampus saat ini sudah mengalami perkembangan yang cukup bagus. Hal ini diungkapkan oleh Misrawi, mahasiswa jurusan Administrasi Negara yang beberapa tulisannya sudah berhasil dimuat di beberapa media massa bahwa kondisi pers kampus saat ini sudah ada perbaikan dari tahun-tahun kemarin.
Secara kultural, pers kampus yang identik dengan jurnalistik atau tulis menulis tidak berbanding lurus dengan minat mahasiswa dalam dunia tulis menulis. Misrawi mengungkapkan bahwa minat mahasiswa untuk berkarya dalam kepenulisan masih minim. “Dalam konteks Unitri masih gersang dengan tulis menulis” jelasnya.
Akhirul Aminullah, S.Sos, M.Si saat ditemui di ruangannya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, mengatakan bahwa pers kampus sudah cukup berkembang. “Pers di Unitri cukup berjalan tetapi kurang maksimal,” ungkapnya datar. Dilihat dari segi peran, Akhirul menegaskan peran pers masih belum sepenuhnya menyentuh kewilayahan mahasiswa. Hal ini bisa diamati  bagaimana para jurnalis atau pers kampus secara kelembagaan masih belum maksimal memainkan peran pers. Alhasil, pers kampus kurang begitu kuat menarik minat mahasiswa untuk membacanya.
Sementara itu, menyinggung masalah tingkat partisipasi mahasisswa, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi itu mengatakan bahwa tingkat partisipasi dan apresiasi mahasiswa terhadap keberadaan pers masih kurang. Mahasiswa masih menganggap pers kampus kurang menarik. Akhirul menambahkan bahwa hal ini dilatarbelakangi oleh kecenderungan mahasiswa yang membanding-bandingkan kualitas pers kampus dengan pers secara umum.
Secara substansial, pers kampus sebenarnya dipersiapkan untuk mengembangkan intelektual mahasiswa dan pengembangan Universitas secara umum. “Pers itu mejadi wadah dari aspirasi masyarakat kampus dalam hal ini mahasiswa,” kata Akhirul. Orang nomor satu di jurusan Ilmu Komunikasi ini mengungkapkan bahwa mahasiswa mampu menuangkan pikiran dan aspirasinya melalui media ini.

Akhirul juga menilai media atau pers kampus merupakan media pembelajaran mahasiswa di dalam tulis menulis utamanya jurnalistik dan lainnya. Hal senada juga disampaikan oleh Misrawi, “Media merupakan wadah untuk mengekspresikan kemampuan tulis menulis”.
Kesuburan perkembangan pers kampus ataupun pers mahasiswa dari tahun 2008 hingga tahun 2011 juga dinilai bagus oleh Aldon Sinaga. Menurut direktur akadamik yang diangkat pada tahun 2004 ini, banyak orang berpendapat ada unsur-unsur kompetisi. “Sebetulnya saya melihat tidak ada kompetisi karena kalian itu backgroundnya lain-lain, cuma jati dirinya tidak dapet”.
Berbeda dengan Aldon, ditelisik dari aspek tulisan, Carmia Diahloka, S.Sos, M.Si mengatakan ada beberapa tulisan yang belum memakai kaidah-kaidah yang benar dalam penulisan dan penyampaian informasi. Seperti penulisan nara sumber dan nama gelar yang terkesan apa adanya. Pembina media cakrawala ini juga menilai topik yang diperbincangkan  pers kampus sudah lumayan bagus, setidaknya untuk pemula sudah sesuai namun yang perlu dibenahi adalah dari aspek kualitas isinya.
Oleh sebab itu, dosen prodi Ilmu Komunikasi yang kerap dipanggil Ibu Mia ini menilai kehadiran pers di ranah kampus sangat perlu. Keberadaan pers bisa menjadi masukan bagi lembaga, terus juga untuk menambah pengetahuan mahasiswa. “Tapi jangan lupa harus ada kode etiknya,” lanjut Carmia.
Apa yang telah diungkapkan oleh beberapa nara sumber yang sempat diwawancarai oleh crew Pena memang benar adanya. Ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh mahasiswa secara umum dan para jurnalis kampus  khususnya. Karenanya, tidak berlebihan jika persoalan-persoalan mendasar seperti yang telah diungkapkan di atas dijadikan pelecut geliat para jurnalis kampus untuk meningkatkan kualitas personalnya dalam dunia jurnalistik. Pun Secara  kelembagaan, hal tersebut perlu dijadikan lokomotif perubahan signifikan bagi kualitas pers kampus ke depan.

Lola A, Syakdiyatul, Latif FA

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | SharePoint Demo